Setu Babakan: Kampung Betawi yang Menyimpan Banyak Cerita

Daftar Isi

“Ada tempat yang kita datangi untuk berwisata. Ada juga tempat yang membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: dari mana sebenarnya cerita ini bermula?”

— BetawiBanget.id

Kalau ngomongin “kampung Betawi” di Jakarta, nama Setu Babakan hampir selalu muncul.

Letaknya di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di kawasan inilah pemerintah Jakarta membangun dan mengembangkan Perkampungan Budaya Betawi sebagai salah satu pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi.

Tapi kalau kita berhenti sebentar dan melihat sejarahnya lebih dekat, ternyata cerita Setu Babakan tidak sesederhana sebuah tempat wisata.

Ada cerita tentang bagaimana kawasan ini diusulkan. Ada keputusan pemerintah yang menjadi dasar pembentukannya. Ada perbedaan sumber mengenai luas kawasan. Bahkan nama “Babakan” sendiri punya beberapa versi cerita.

Setu Babakan bukan hanya tentang sebuah setu. Di baliknya ada cerita tentang bagaimana Jakarta berusaha menjaga identitas Betawi.

Dari Usulan Masyarakat Betawi ke Perkampungan Budaya

Gagasan untuk menghadirkan sebuah kawasan yang dapat menjadi pusat pelestarian budaya Betawi tidak muncul begitu saja.

Sejumlah sumber mencatat bahwa gagasan tersebut mulai didorong oleh Badan Musyawarah Masyarakat Betawi atau Bamus Betawi pada akhir 1990-an dan kemudian diusulkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1998.

Gagasan itu kemudian mendapat dasar hukum melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2000 pada masa Gubernur Sutiyoso.

Di sinilah muncul sedikit perbedaan dalam catatan sejarah. CNN Indonesia menyebut SK tersebut terbit pada 18 Agustus 2000, sementara detikTravel mencatat pembangunan fisiknya mulai pada 15 September 2000.

Perbedaan tanggal tersebut tidak mengubah gambaran besarnya: awal tahun 2000-an menjadi masa penting dalam pembentukan Setu Babakan sebagai kawasan budaya Betawi.

Status kawasan sebagai Perkampungan Budaya Betawi kemudian dikaitkan dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2005. Namun sumber lain, seperti Beritasatu, menyebut penetapan status cagar budaya pada 2004.

Karena dokumen hukum primer yang menjelaskan perbedaan tersebut tidak berhasil kami akses secara langsung dalam penelusuran ini, kedua informasi tersebut sebaiknya dibaca sebagai perbedaan pencatatan sumber, bukan sebagai sesuatu yang sudah sepenuhnya terselesaikan.

Berapa Sebenarnya Luas Setu Babakan?

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana.

Tetapi ketika mencari jawabannya, justru muncul angka yang cukup jauh berbeda.

CNN Indonesia dan detikTravel menyebut luas sekitar 289 hektare untuk kawasan Perkampungan Budaya Betawi di Srengseng Sawah.

Sementara itu, Beritasatu menyebut angka sekitar 32 hektare.

Perbedaannya bukan sedikit. Hampir sembilan kali lipat.

Bisa saja kedua angka tersebut sebenarnya merujuk pada objek yang berbeda—misalnya luas keseluruhan kawasan dibandingkan dengan area tertentu di sekitar setu. Tetapi dari sumber yang berhasil ditelusuri, penjelasan tersebut belum bisa dipastikan.

Dalam sejarah, kadang yang menarik bukan hanya jawabannya, tetapi juga ketika sumber-sumber yang ada belum memberikan jawaban yang sama.

Karena itu, untuk sementara angka 289 hektare lebih tepat disebut sebagai angka yang digunakan oleh sejumlah sumber untuk keseluruhan kawasan Perkampungan Budaya Betawi, bukan sebagai ukuran luas badan air Setu Babakan itu sendiri.

Dari Mana Nama “Babakan” Berasal?

Nama “Babakan” juga menyimpan cerita yang tidak kalah menarik.

Tidak ada satu penjelasan yang benar-benar disepakati oleh seluruh sumber yang ditemukan.

Ada sumber yang menjelaskan “babakan” sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal atau sumber.

Tetapi penelusuran mengenai toponimi kawasan ini menemukan cerita lain dari masyarakat sekitar.

Dalam salah satu penjelasan, istilah “babakan” dalam bahasa Sunda dapat merujuk pada kampung atau kawasan yang baru dibuka, termasuk kawasan hutan yang baru dibuka atau ditebang.

Ada pula cerita yang menghubungkan nama Setu Babakan dengan Kampung Babakan yang berada di sekitar kawasan tersebut. Dalam cerita warga, setu tersebut dikaitkan dengan masyarakat dari Kampung Babakan.

Versi lainnya menghubungkan keberadaan setu dengan fungsi pengairan bagi wilayah di sekitarnya, termasuk Tanjung Barat.

Mana yang paling benar?

Belum ada bukti dokumenter yang cukup kuat untuk memastikan salah satunya sebagai satu-satunya asal nama.

Untuk cerita seperti ini, kesaksian masyarakat tetap penting. Tetapi kesaksian lisan perlu dibedakan dari bukti sejarah tertulis.

Bukan Sekadar Tempat Wisata

Kalau datang ke Setu Babakan hari ini, kita mungkin lebih mudah melihatnya sebagai tempat untuk berjalan-jalan, menikmati suasana danau, makan, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tetapi fungsi kawasan ini sebenarnya lebih besar dari itu.

Perkampungan Budaya Betawi dibangun sebagai ruang untuk pelestarian dan pengembangan budaya Betawi.

Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan dan bentuk kebudayaan, mulai dari pertunjukan seni, silat, prosesi adat, kuliner Betawi, hingga kegiatan masyarakat.

Lingkungan sekitar juga memiliki unsur wisata agro, dengan berbagai tanaman dan buah yang semakin jarang kita temui dalam kehidupan perkotaan sehari-hari.

Danau Setu Babakan di Jakarta Selatan
Danau Setu Babakan, bagian dari kawasan Perkampungan Budaya Betawi di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Foto oleh Herryz, lisensi CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Lima Kampung di Dalam Kawasan

Kawasan Perkampungan Budaya Betawi juga tidak hanya terdiri dari satu titik di sekitar danau.

Sejumlah sumber menyebut kawasan ini terbagi dalam lima kampung, yaitu:

  • Kampung Muhammad Husni Thamrin
  • Kampung Abdulrahman Saleh
  • Kampung Ismail Marzuki
  • Kampung KH Noer Ali
  • Kampung Embrio

Kampung Embrio memiliki cerita tersendiri karena menjadi lokasi peletakan batu pertama pembangunan kawasan.

Nama-nama tersebut juga menunjukkan sesuatu yang menarik: kawasan budaya ini tidak berdiri sebagai museum yang terpisah dari kehidupan masyarakat, tetapi berada di tengah lingkungan permukiman.

Museum Betawi: Ketika Cerita Dipindahkan ke Dalam Ruang

Salah satu perkembangan penting di kawasan ini adalah hadirnya Museum Betawi.

Sumber yang ditelusuri mencatat pembangunan museum dilakukan secara bertahap pada 2012–2015.

Museum tersebut kemudian dibuka untuk umum pada 30 Juli 2017, bertepatan dengan pelaksanaan Lebaran Betawi ke-11.

Peresmian tersebut juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Kehadiran museum membuat fungsi kawasan menjadi semakin lengkap. Jika lingkungan Setu Babakan menghadirkan budaya melalui kehidupan dan kegiatan masyarakat, museum memberikan ruang untuk menyimpan dan memperkenalkan benda, cerita, serta peninggalan budaya Betawi.

Setu Babakan dan Tantangan Menjaga Budaya

Menjadikan sebuah kawasan sebagai pusat budaya tentu tidak otomatis membuat budaya tetap hidup.

Bangunan bisa dirawat. Museum bisa dibangun. Pertunjukan bisa dijadwalkan.

Tetapi budaya pada akhirnya tetap membutuhkan manusia yang mau menjalankannya.

Itulah sebabnya keberadaan Setu Babakan menjadi menarik. Ia bukan hanya tentang bagaimana sebuah pemerintah membangun kawasan budaya, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mempertahankan sesuatu yang mereka anggap bagian dari dirinya.

Pada 2021, kawasan ini juga masuk dalam daftar 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia melalui Anugerah Desa Wisata Indonesia, serta memperoleh penghargaan pada kategori kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Pengakuan seperti itu tentu penting. Tetapi ukuran keberhasilan yang paling panjang mungkin justru bukan jumlah penghargaan.

Pertanyaannya sederhana: apakah anak Betawi hari ini masih merasa bahwa tempat dan cerita ini adalah bagian dari dirinya?

Setu Babakan Bukan Sekadar Tempat untuk Mengingat Masa Lalu

Ada alasan mengapa Setu Babakan terus disebut ketika orang berbicara tentang budaya Betawi di Jakarta.

Tempat ini menjadi salah satu ruang di mana budaya Betawi tidak hanya dipajang, tetapi juga diusahakan untuk tetap hadir dalam kehidupan.

Tentu masih banyak hal yang bisa diperdebatkan: soal luas kawasan, sejarah pembentukannya, asal nama, sampai bagaimana budaya seharusnya dilestarikan.

Dan mungkin memang tidak semuanya harus segera diberi jawaban yang terlalu pasti.

Karena sejarah sering kali datang kepada kita dalam potongan-potongan: dari dokumen pemerintah, penelitian, pemberitaan, dan cerita yang diwariskan oleh masyarakat.

Tugas kita bukan hanya memilih cerita yang paling enak didengar.

Tetapi juga belajar membedakan mana yang sudah kuat buktinya, mana yang masih menjadi cerita, dan mana yang memang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Setu Babakan, Salah Satu Rumah Budaya Betawi

Bukan hanya tentang danau. Bukan hanya tentang wisata. Dan bukan hanya tentang masa lalu.

Ia adalah salah satu tempat di mana cerita tentang Betawi masih terus berlangsung.

Bangga Jadi Betawi.

Anak Betawi Bergerak.

BetawiBanget.id

Fakta Singkat
  • Gagasan pembentukan Perkampungan Budaya Betawi mulai didorong oleh Bamus Betawi pada akhir 1990-an dan disebut diusulkan kepada Pemprov DKI Jakarta pada 1998.
  • Dasar penting pembentukannya adalah SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2000 pada masa Gubernur Sutiyoso.
  • Status Perkampungan Budaya Betawi kemudian dikaitkan dengan Perda DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2005, meskipun terdapat sumber yang menyebut penetapan status cagar budaya pada 2004.
  • Luas kawasan disebut sekitar 289 hektare oleh CNN Indonesia dan detikTravel, sementara Beritasatu menyebut 32 hektare. Perbedaan ini belum dapat dipastikan penyebabnya berdasarkan sumber yang berhasil ditelusuri.
  • Asal nama “Babakan” memiliki beberapa versi, termasuk kaitannya dengan kampung atau kawasan yang baru dibuka, Kampung Babakan di sekitar kawasan, serta fungsi pengairan.
  • Kawasan ini disebut terbagi dalam lima kampung: Muhammad Husni Thamrin, Abdulrahman Saleh, Ismail Marzuki, KH Noer Ali, dan Kampung Embrio.
  • Museum Betawi dibangun secara bertahap pada 2012–2015 dan dibuka untuk umum pada 30 Juli 2017.
  • Pada 2021, Setu Babakan masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia melalui Anugerah Desa Wisata Indonesia.

Pertanyaan Umum Seputar Setu Babakan

Di mana lokasi Setu Babakan?

Setu Babakan berada di kawasan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan menjadi bagian dari kawasan Perkampungan Budaya Betawi.

Apa itu Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan?

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah kawasan di Jakarta Selatan yang dikembangkan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi, termasuk seni, tradisi, kuliner, kehidupan masyarakat, dan berbagai kegiatan budaya.

Kapan Setu Babakan mulai menjadi kawasan budaya Betawi?

Gagasannya disebut mulai diusulkan pada 1998 dan kemudian memperoleh dasar melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2000. Status sebagai Perkampungan Budaya Betawi kemudian dikaitkan dengan Perda DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2005. Beberapa sumber mencatat detail tahun dan tanggal secara berbeda.

Berapa luas kawasan Setu Babakan?

Angka yang ditemukan dalam sumber media tidak seragam. CNN Indonesia dan detikTravel menyebut sekitar 289 hektare untuk kawasan Perkampungan Budaya Betawi, sedangkan Beritasatu menyebut 32 hektare. Perbedaan tersebut belum dapat dipastikan penyebabnya tanpa merujuk langsung pada dokumen hukum atau batas kawasan resmi.

Apa arti nama Babakan pada Setu Babakan?

Tidak ada satu asal nama yang dapat dipastikan dari sumber yang ditemukan. Beberapa versi menghubungkannya dengan istilah “babakan” untuk kawasan yang baru dibuka, Kampung Babakan di sekitar kawasan, atau fungsi pengairan setu. Versi-versi tersebut lebih tepat disebut sebagai riwayat atau penjelasan toponimi yang masih memerlukan verifikasi dokumenter lebih lanjut.

Apakah Setu Babakan hanya tempat wisata?

Tidak. Setu Babakan merupakan bagian dari Perkampungan Budaya Betawi yang memiliki fungsi pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Di kawasan ini terdapat kegiatan seni, tradisi, kuliner, kehidupan masyarakat, wisata agro, serta fasilitas seperti Museum Betawi.

Kapan Museum Betawi di Setu Babakan dibuka?

Museum Betawi dibangun secara bertahap pada 2012–2015 dan dibuka untuk umum pada 30 Juli 2017 dalam rangka Lebaran Betawi ke-11.

Sumber & Referensi
  1. CNN Indonesia, “Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan: Lokasi dan Atraksi Wisata” — CNN Indonesia .
  2. detikTravel, “Mengenal Setu Babakan, Dapurnya Budaya Betawi” — detikTravel .
  3. detikTravel, “Daya Tarik Setu Babakan, Jelajahi Kampung Budaya Betawi Gratis” — detikTravel .
  4. Beritasatu, “Jadi Cagar Budaya Betawi, Ini Sejarah Setu Babakan” — Beritasatu .
  5. Sindonews, “Sejarah Terbentuknya Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan” — Sindonews .
  6. Infrastruktur.co.id, “Cerita Tentang Situ Mangga Bolong dan Toponimi Rawan di Perkampungan Budaya Betawi” — Infrastruktur.co.id .
  7. Wikimedia Commons, “Danau Setu Babakan.jpg”, foto oleh Herryz, lisensi CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons .

Catatan: beberapa detail sejarah dalam artikel ini memiliki perbedaan antar sumber. Perbedaan tersebut sengaja dicantumkan agar pembaca dapat membedakan antara fakta yang relatif konsisten, riwayat yang bersumber dari cerita masyarakat, dan informasi yang masih membutuhkan verifikasi dokumen primer.

Catatan Founder
Deni Ardini

Founder BetawiBanget.id, sebuah platform yang mendorong kebanggaan terhadap identitas Betawi serta mengangkat tradisi, cerita, nilai, dan karya masyarakat Betawi agar terus hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.

Posting Komentar