Asal-Usul Glodok: dari Bunyi Air Sampai Pecinan Tertua Jakarta

Daftar Isi
Klenteng Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti) di Glodok, Jakarta

Klenteng Jin De Yuan atau Vihara Dharma Bhakti di Glodok, klenteng tertua di Jakarta yang berdiri sejak pertengahan abad ke-17. Foto: Gunawan Kartapranata via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Sebelum jadi surga elektronik dan gang-gang sempit penuh aroma kue keranjang, Glodok pernah jadi tempat kuda-kuda pengangkut barang berhenti minum. Tapi nama kawasan ini menyimpan cerita yang jauh lebih kelam dari sekadar bunyi air—ia lahir dari salah satu tragedi paling berdarah dalam sejarah Batavia, ketika ribuan nyawa etnis Tionghoa melayang dalam hitungan hari.

Dari Bunyi Air ke Nama Kawasan

Asal-usul nama "Glodok" sendiri sebenarnya sederhana dan cukup profan, jauh dari kesan kelam sejarah yang menyertainya. Versi yang paling banyak beredar menyebut nama ini berasal dari tiruan bunyi air—"grojok-grojok" atau "glodok-glodok"—yang terdengar dari sebuah bak penampungan air yang dibangun sekitar 1670 untuk menampung aliran Kali Ciliwung. Lidah warga Tionghoa totok yang bermukim di sana konon melafalkan "grojok" jadi "glodok" sesuai pola pengucapan mereka. Versi lain menyebut kawasan ini dulunya adalah tempat pemberhentian kuda-kuda pengangkut barang untuk minum, sebelum akhirnya nama itu melekat jadi identitas kawasan. Sejarawan Rachmat Ruchiat, dalam bukunya Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, turut mencatat keterkaitan nama ini dengan sistem pengairan kota tua Batavia yang mulai dibangun sejak era Gubernur Jenderal Durven pada 1728-1732.

Kwan Im Teng, Klenteng yang Lebih Tua dari Nama Glodok Itu Sendiri

Jauh sebelum jadi kawasan permukiman resmi, sudah ada jejak komunitas Tionghoa di sekitar Glodok. Menurut Kronik Kai-ba-li-dai, catatan sejarah masyarakat Tionghoa Batavia dari abad ke-18, sekitar tahun 1650 seorang letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen mendirikan sebuah klenteng kecil untuk memuja Dewi Kwan Im (Guanyin). Klenteng ini awalnya dinamai Kwan Im Teng, yang berarti "Pavilion Kwan Im"—dan dari nama inilah, menurut sejumlah catatan, istilah "klenteng" sendiri belakangan dipercaya berasal. Klenteng inilah yang kini dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti, diyakini sebagai klenteng tertua di Jakarta.

Geger Pecinan 1740: Tragedi yang Membentuk Ulang Batavia

Nasib komunitas Tionghoa Batavia berubah drastis pada Oktober 1740. Ketegangan sudah menumpuk sejak pertengahan tahun itu—harga gula anjlok, pabrik-pabrik gula yang banyak dikelola pengusaha Tionghoa merugi, dan pengangguran di kalangan buruh Tionghoa melonjak. Pada 25 Juli 1740, VOC memutuskan mendeportasi warga Tionghoa yang dianggap mencurigakan ke Ceylon (Sri Lanka)—kebijakan yang memicu rumor mengerikan bahwa para deportan sebenarnya dibuang ke laut dan ditenggelamkan. Ketakutan dan kemarahan itu meledak: pada 7 Oktober 1740, buruh Tionghoa menewaskan sekitar 50 tentara Belanda di kawasan Meester Cornelis dan Tanah Abang.

Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier merespons dengan tangan besi. Sejak 9 Oktober, pembantaian warga Tionghoa berlangsung di dalam tembok kota Batavia, bahkan sempat dijanjikan hadiah dua ducat untuk setiap kepala warga Tionghoa yang dipenggal, sebelum akhirnya dihentikan pada 22 Oktober. Angka korban jiwa dalam tragedi yang dikenal sebagai Geger Pecinan ini masih diperdebatkan sejarawan hingga kini—sebagian sumber menyebut lebih dari 10.000 orang Tionghoa tewas, sementara sejarawan Susan Blackburn, dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun, memperkirakan angkanya "lebih dari 1.000 orang." Selisih yang sangat besar ini menunjukkan betapa sulitnya memastikan skala pasti tragedi tersebut dari catatan kolonial yang tersisa.

Lahirnya Glodok sebagai Kawasan Wajib Tionghoa

Pasca-tragedi, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier dipanggil pulang ke Belanda untuk diadili atas perannya dalam pembantaian tersebut, sementara penggantinya, Gustaaf Willem van Imhoff, menata ulang kebijakan terhadap warga Tionghoa yang tersisa. Alih-alih dibiarkan tinggal berbaur di dalam kota, warga Tionghoa diwajibkan menetap di kawasan khusus di luar tembok kota—kawasan yang kini dikenal sebagai Glodok—lengkap dengan sistem izin (pas) untuk keluar-masuk. Van Imhoff turut membentuk Kong Koan, lembaga semi-otonom yang mengurus administrasi dan peradilan internal komunitas Tionghoa Batavia. Klenteng Kwan Im Teng yang ludes terbakar dalam tragedi 1740 pun dibangun ulang pada 1755 di bawah kepemimpinan Kapten Tionghoa Oey Tji Lo, dan namanya diganti menjadi Kim Tek Ie.

Dari Kawasan Segregasi ke Jantung Ekonomi Jakarta

Meski lahir dari kebijakan segregasi yang traumatis, Glodok justru berkembang jadi salah satu kawasan paling hidup di Batavia lalu Jakarta. Di dalamnya tumbuh kawasan permukiman padat bernama Petak Sembilan, yang sampai sekarang jadi pusat perayaan Imlek paling ramai di ibu kota. Pada 1743, pemerintah kolonial mulai membangun Strafinrichting Glodok, penjara yang awalnya khusus menahan warga Tionghoa, namun belakangan juga pernah menahan tokoh nasional Mohammad Hatta serta personel grup musik Koes Bersaudara yang ditahan gara-gara memainkan lagu bergaya Barat di masa larangan musik ngak-ngik-ngok era Presiden Sukarno. Memasuki era 1950-1960-an, Glodok berkembang jadi pusat perputaran uang dan bahkan sempat jadi lokasi perdagangan dolar gelap di masa kebijakan anti-Amerika Sukarno, sebelum akhirnya bertransformasi jadi pusat elektronik terbesar di Jakarta seperti yang dikenal luas hari ini.

Fakta Singkat

  • Nama "Glodok" dipercaya berasal dari tiruan bunyi air "grojok-grojok" dari bak penampungan air sekitar 1670.
  • Klenteng Kwan Im Teng (kini Vihara Dharma Bhakti) didirikan Letnan Kwee Hoen sekitar 1650, diyakini klenteng tertua di Jakarta.
  • Tragedi Geger Pecinan pada Oktober 1740 menewaskan ribuan warga Tionghoa Batavia, meski angka pastinya masih diperdebatkan.
  • Pasca-1740, warga Tionghoa diwajibkan menetap di kawasan Glodok lewat sistem izin khusus (wijkenstelsel/pas).
  • Glodok berkembang dari kawasan segregasi kolonial jadi pusat Pecinan dan pusat elektronik terbesar Jakarta hari ini.

Catatan redaksi: angka korban tewas Geger Pecinan 1740 di artikel ini masih menyisakan selisih besar antar-sumber—dari "lebih dari 10.000 orang" hingga perkiraan Susan Blackburn sebesar "lebih dari 1.000 orang"—sehingga sebaiknya dibaca sebagai perkiraan, bukan angka pasti; nama pendiri Klenteng Kwan Im Teng juga tercatat berbeda-beda antar-sumber (Kwee Hoen versi transliterasi Hokkian, Guo Xun Guan versi Mandarin), kemungkinan merujuk pada orang yang sama namun belum terkonfirmasi silang.

Posting Komentar