Asal-Usul Jatinegara: dari Meester Cornelis sampai Pertempuran 1811

Daftar Isi
Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur

Stasiun Jatinegara, salah satu simpul transportasi tersibuk Jakarta Timur—berdiri di atas tanah yang dulu jadi ajang pertempuran darat terbesar di Hindia Belanda. (TyewongX/CC BY-SA 3.0/Wikimedia Commons)

Warga Jakarta Timur masih akrab nyebut kawasan ini "Mester" ketimbang "Jatinegara"—padahal nama itu udah resmi diganti sejak 1942. Jejak nama kolonial yang bertahan lebih dari delapan dekade ini nyimpen cerita panjang: mulai dari pelarian seorang pangeran, guru agama asal Maluku, sampai pertempuran darat terbesar yang pernah terjadi di tanah Hindia Belanda.

Hutan Jati Tempat Pangeran Bersembunyi

Menurut laman resmi Kelurahan Jatinegara, nama kawasan ini berasal dari istilah Sunda "jatina nagara", yang bermakna "negara yang sejati" atau "kekuatan negara"—diambil sebagai simbol perlawanan Kesultanan Banten terhadap penjajah Belanda kala itu. Ada juga versi lain yang gak kalah menarik: setelah VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta pada 30 Mei 1619, Pangeran Jayakarta yang kalah perang melarikan diri ke arah tenggara dan berlindung di hutan jati, lalu menamai tempat pelariannya itu "Jatinegara". Siapa sebenarnya Pangeran Jayakarta ini pun masih diperdebatkan sejarawan. Prof. Uka Tjandrasasmita berpendapat sang pangeran "meninggal dunia dan dimakamkan di Banten," sementara versi umum meyakini ia menetap di kawasan yang kini disebut Jatinegara Kaum sampai akhir hayatnya, dengan makam yang sudah ditetapkan cagar budaya sejak 1999. Sejarawan Abdussomad bahkan menegaskan ada sosok lain yang sering tertukar dengan Pangeran Jayakarta. "Achmad Djaketra dan Pangeran Jayakarta adalah orang yang berbeda," katanya, sementara sejarawati FIB UI Siswantari mencatat ada pandangan bahwa "Djaketra adalah pengikut Pangeran Jayakarta dan ada pula yang berpendapat Djaketra adalah anak darinya."

Cornelis Senen, Guru Agama dari Kepulauan Banda

Sebelum dikenal sebagai Jatinegara, kawasan ini justru lebih lama dikenal dengan nama Belanda: Meester Cornelis. Sejarawan Adolf Heuken menjelaskan asal-usulnya lewat sosok Cornelis Senen, pria kelahiran sekitar 1600 dari keluarga kaya di Pulau Lontar, Kepulauan Banda, Maluku. "Senen adalah anak orang kaya dari Pulau Lontar. Pada tahun 1621 dia diasingkan ke Batavia," ujar Heuken. Di Batavia, Senen jadi guru agama Kristen dan penerjemah, bahkan mendirikan sekolah pertama buat anak-anak pribumi di Jakarta pada 1632—karena perannya sebagai pendidik, orang memanggilnya "meester" (tuan guru dalam bahasa Belanda). Pada 1656, ia mendapat izin VOC menebang hutan di sepanjang Sungai Ciliwung. "Di sana dia menyuruh orang menebang pohon, untuk kemudian dihanyutkan lewat Ciliwung ke Kota," jelas Heuken. Menjelang wafatnya sekitar 1661, ia diperkirakan menguasai sekitar 5 kilometer persegi lahan antara Sungai Cipinang dan Ciliwung—dan nama "Meester Cornelis" pun melekat pada kawasan itu, disingkat warga pribumi jadi "Mester", sebutan yang tetap dipakai sampai sekarang meski nama resminya sudah berganti.

Pertempuran Darat Terbesar di Hindia Belanda

Titik paling berdarah dalam sejarah kawasan ini terjadi pada Agustus 1811, ketika pasukan Inggris di bawah Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty dan Jenderal Rollo Gillespie menyerbu benteng pertahanan Meester Cornelis yang dijaga gabungan pasukan Belanda-Prancis di bawah Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens. Sejarawan Peter Carey mencatat pasukan Inggris mendarat di Cilincing pada 3 Agustus 1811, dan setelah pertempuran sengit selama sekitar dua minggu, benteng akhirnya jatuh pada 25-26 Agustus 1811. Ekspedisi Inggris membawa hampir 12.000 tentara dan 100 kapal, sementara Meester Cornelis dipertahankan dengan dukungan 280 pucuk meriam. Angka korban bervariasi antar sumber, tapi Peter Carey mencatat sekitar 500 tentara Inggris tewas, dengan proporsi yang mencolok: 50% korban dari pasukan Eropa dan Maluku, sementara sampai 80% pasukan bantuan Jawa dan Madura yang dikerahkan ikut gugur—gambaran betapa beratnya beban yang ditanggung pasukan pribumi dalam pertempuran yang sebenarnya bukan perang mereka. Di pihak Belanda-Prancis, korban mencapai ribuan, dengan hampir 5.000 personel akhirnya ditawan. Sebagian kawasan ini bahkan sempat dijuluki "Rawa Bangke", entah karena tumpukan mayat korban pertempuran 1811 itu, atau menurut versi lain karena jadi lokasi pembuangan jenazah korban pembantaian etnis Tionghoa dalam peristiwa Geger Pacinan 1740.

Dari Nama Kolonial ke Nama yang "Sejati"

Kawasan Meester Cornelis terus berkembang jadi kota satelit penting Batavia sepanjang abad ke-19, lengkap dengan gedung pengadilan (landraad) yang kini jadi Markas Kodim Jakarta Timur. Wartawan senior Alwi Shahab, dalam kolom "Nostalgia Abah Alwi", menulis soal bangunan ini: "Pengadilan ini terletak di kantor Keresidenan Meester Cornelis, yang kini menjadi Markas Kodim Jakarta Timur dekat stasiun kereta api Jatinegara," lanjutnya, "Bekas markas Kodim ini, saat ini sudah rampung dipugar dan menjadi tempat kegiatan budaya dan kesenian Betawi." Nama "Meester Cornelis" akhirnya dihapus pada 1942 di masa pendudukan Jepang, diganti "Jatinegara" karena dianggap terlalu berbau Belanda. Alwi Shahab bahkan menyebut ada dorongan politik di baliknya. "Bung Karno tidak senang dengan nama-nama Belanda," ujarnya. Jatinegara baru resmi berdiri sebagai kelurahan tersendiri pada 1966.

Stasiun dan Pasar yang Terus Berdenyut

Jejak infrastruktur kolonial yang paling bertahan di kawasan ini adalah stasiun keretanya. Stasiun pertama bernama Stasiun Meester Cornelis dibuka 1887 oleh BOSM (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij), sebelum bangunan yang berdiri sekarang dibangun 1909 oleh Staatsspoorwegen dan mulai melayani penumpang pada 1910—memadukan gaya Indische Empire dengan Kolonial Modern lengkap dengan cupola khas di puncak atapnya. Stasiun ini ditetapkan cagar budaya pada 2005 dan kini jadi salah satu stasiun tersibuk di Jakarta Timur, terintegrasi dengan Transjakarta sejak Januari 2023. Gak jauh dari situ, Pasar Jatinegara alias Pasar Mester diresmikan pada 10 November 1969 di era Gubernur Ali Sadikin, dan sampai sekarang tetap jadi magnet ekonomi kawasan ini—lengkap dengan Pasar Loak Jatinegara yang jadi incaran pemburu barang bekas. Perpaduan nama resmi dan nama lama yang terus hidup berdampingan ini jadi bukti kalau sejarah gak pernah benar-benar hilang, cuma berubah bentuk jadi kebiasaan sehari-hari warga.

Fakta Singkat

  • Nama Jatinegara diduga berasal dari "jatina nagara" (bahasa Sunda: negara sejati) atau dari hutan jati tempat Pangeran Jayakarta bersembunyi pada 1619.
  • Nama kolonial "Meester Cornelis" berasal dari Cornelis Senen, guru agama asal Kepulauan Banda yang menebang hutan Ciliwung sejak 1656.
  • Pertempuran Meester Cornelis 1811 antara Inggris dan Belanda-Prancis jadi salah satu pertempuran darat terbesar di Hindia Belanda, menewaskan ribuan tentara dari kedua pihak.
  • Nama Meester Cornelis resmi diganti jadi Jatinegara pada 1942 di masa pendudukan Jepang.
  • Stasiun Jatinegara beroperasi sejak 1910 dan Pasar Jatinegara (Pasar Mester) diresmikan pada 10 November 1969.

Catatan redaksi: identitas dan lokasi makam Pangeran Jayakarta masih diperdebatkan sejarawan — Prof. Uka Tjandrasasmita menyebut ia wafat dan dimakamkan di Banten, sementara versi populer meyakini ia menetap dan dimakamkan di Jatinegara Kaum; hubungan antara Pangeran Jayakarta dan sosok Achmad Djaketra juga tidak disepakati, sebagian menyebut keduanya orang berbeda, sebagian lain menyebut Djaketra sebagai pengikut atau bahkan anaknya; asal julukan "Rawa Bangke" pun punya dua versi berbeda — korban pertempuran 1811 atau korban pembantaian Geger Pacinan 1740 — dan tidak ada yang dipastikan.

Posting Komentar