Asal-Usul Kwitang: dari Jago Silat sampai Pusat Majelis Taklim Jakarta

Daftar Isi
Kampung Kwitang di Batavia sekitar 1910-1920

Aktivitas warga di kampung Kwitang, Batavia, sekitar 1910-1920. Foto: Koleksi Wereldmuseum Amsterdam (dahulu Tropenmuseum) via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Sebelum jadi kampung yang dikenal sebagai pusat majelis taklim terbesar di Jakarta, Kwitang lebih dulu dikenal sebagai kampungnya jago silat keturunan Tionghoa. Dari nama seorang pengembara jago bela diri, kawasan ini berubah jadi salah satu titik paling penting dalam sejarah dakwah Islam di tanah Betawi.

Kwee Tang Kiam, Pengembara yang Jadi Jago Silat

Nama "Kwitang" dipercaya berasal dari nama Kwee Tang Kiam, seorang pengembara keturunan Tionghoa yang tiba di Batavia sekitar abad ke-17. Ia dikenal warga sekitar sebagai ahli bela diri kuntao yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik. Selain jago bertarung, Kwee Tang Kiam juga piawai berdagang dan berhasil mengumpulkan kekayaan yang cukup besar. Warga sekitar sangat menghormatinya, hingga akhirnya kampung tempat ia tinggal pun dikenal dengan namanya sendiri: Kwitang. Sayangnya, kejayaan itu tak bertahan lama—anaknya yang gemar berjudi disebut menghabiskan harta warisan sang ayah, termasuk menjual tanah-tanah yang telah susah payah dikumpulkan.

Versi Lain: Kwik Tang Kiam Sang Tuan Tanah

Selain versi Kwee Tang Kiam si jago silat, beredar pula versi lain yang menyebut asal nama Kwitang berasal dari Kwik Tang Kiam, seorang tuan tanah berpengaruh di masa kolonial yang menguasai hampir seluruh lahan di kampungnya. Kedua versi ini sama-sama menyebut sosok keturunan Tionghoa bernama mirip sebagai asal muasal nama kawasan, namun berbeda dalam menonjolkan profesi utamanya—sebagai jago silat pengembara di satu versi, dan sebagai tuan tanah mapan di versi lainnya.

Dari Tanah Pendekar ke Tanah Pengajian

Wajah Kwitang benar-benar berubah pada awal abad ke-20, ketika kawasan ini menjadi rumah bagi Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, ulama kelahiran Kwitang yang kelak dikenal sebagai Habib Ali Kwitang. Sepulang dari menuntut ilmu bertahun-tahun di Hadramaut dan Mekah, Habib Ali kembali ke Batavia dan mulai mengajar agama sambil berdagang di Pasar Tanah Abang. Murid-muridnya di Masjid Al Makmur, Tanah Abang, kian hari kian banyak, hingga akhirnya ia memindahkan pengajiannya ke Masjid Kwitang yang berdiri sejak 1911. Dari sanalah lahir Majelis Taklim Kwitang, yang digelar rutin tiap Minggu pagi dan disebut-sebut sebagai cikal bakal majelis taklim modern di Jakarta, dengan jemaah yang bisa mencapai puluhan ribu orang dalam kurun waktu hampir 70 tahun kepemimpinannya.

Ulama yang Didengar Soekarno

Pengaruh Habib Ali Kwitang tak berhenti di ranah keagamaan. Ia turut bergabung dengan Sarekat Islam pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, membuka jalan masuk Nahdlatul Ulama ke Jakarta lewat kedekatannya dengan KH Hasyim Asy'ari, serta disebut-sebut kerap dimintai pendapat oleh Soekarno dalam berbagai keputusan penting, termasuk soal penentuan hari kemerdekaan yang akhirnya jatuh pada 17 Agustus 1945—yang secara kebetulan (atau tidak) bertepatan dengan 17 Ramadan dalam kalender Hijriah. Habib Ali wafat pada 13 Oktober 1968 dan dimakamkan di samping Masjid Al-Riyadh, Kwitang, yang ia bangun sendiri pada dekade 1940-an. Makamnya sampai sekarang jadi tujuan ziarah warga dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan mancanegara.

Fakta Singkat

  • Nama "Kwitang" dipercaya berasal dari Kwee Tang Kiam, pengembara Tionghoa abad ke-17 yang jago silat kuntao sekaligus pedagang sukses.
  • Ada versi lain yang menyebut asal namanya dari Kwik Tang Kiam, seorang tuan tanah berpengaruh di kampung yang sama.
  • Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi memindahkan pengajiannya ke Masjid Kwitang sejak 1911, melahirkan Majelis Taklim Kwitang.
  • Habib Ali lahir 20 April 1870 dan wafat 13 Oktober 1968, dimakamkan di samping Masjid Al-Riyadh yang ia bangun sendiri.
  • Habib Ali disebut kerap dimintai pendapat Soekarno, termasuk soal penentuan tanggal proklamasi kemerdekaan.

Catatan redaksi: tahun kelahiran Habib Ali Kwitang di berbagai sumber tidak seragam—Wikipedia dan sejumlah sumber lain mencantumkan 1870 (sehingga wafat di usia 98 tahun sesuai catatan umum), sementara judul salah satu makalah akademis tentang tokoh ini mencantumkan rentang "1889-1968" yang jika dibaca sebagai tahun lahir akan membuat usianya di angka 79 tahun saat wafat; artikel ini mengikuti angka 1870 yang lebih banyak dirujuk, namun pembaca perlu tahu ada selisih ini. Kisah spesifik tentang keterlibatan Habib Ali dalam penentuan tanggal 17 Agustus 1945 juga bersumber dari penuturan populer tanpa dokumen sejarah primer yang bisa diverifikasi silang.

Posting Komentar