Betawi di Masa Depan: Apa yang Harus Tetap Hidup?

Daftar Isi

“Saya tidak ingin Betawi hanya dikenang karena masa lalunya. Saya ingin nilai-nilainya tetap hidup di masa depan.”

— Deni Ardini, Founder BetawiBanget.id

Deni Ardini

Ketika kita berbicara tentang Betawi, sering kali yang muncul di kepala kita adalah masa lalu.

Tentang kampung. Tentang makanan. Tentang kesenian. Tentang pakaian. Tentang rumah. Tentang tradisi. Tentang cerita orang-orang tua kita.

Semua itu penting.

Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting untuk kita pikirkan:

Seperti apa Betawi yang ingin kita lihat dua puluh, tiga puluh, atau lima puluh tahun lagi?

Karena kalau kita hanya sibuk mengingat masa lalu, kita bisa lupa bahwa generasi setelah kita akan hidup di dunia yang sama sekali berbeda.

Betawi Tidak Boleh Hanya Menjadi Kenangan

Saya tidak ingin anak-anak kita nanti hanya mengenal Betawi dari buku sejarah.

Tidak hanya dari museum.

Tidak hanya dari pertunjukan budaya.

Tidak hanya dari festival yang hadir beberapa kali dalam setahun.

Saya ingin Betawi tetap hadir dalam kehidupan mereka.

Dalam keluarga. Dalam cara mereka bersikap. Dalam karya mereka. Dalam bisnis mereka. Dalam pendidikan. Dalam ruang publik. Dan dalam cara mereka melihat dunia.

Budaya tidak akan benar-benar hidup jika hanya hadir ketika sedang dipertunjukkan.

Dunia Akan Terus Berubah

Kita tidak bisa menghentikan perubahan.

Teknologi akan terus berkembang. Cara manusia bekerja akan berubah. Kota akan berubah. Pendidikan akan berubah. Kebiasaan masyarakat akan berubah.

Bahkan mungkin banyak hal yang hari ini kita anggap biasa akan terasa asing bagi generasi anak-anak kita.

Dan itu bukan sesuatu yang harus kita lawan.

Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika dunia berubah, kita tidak kehilangan nilai yang penting.

Zaman boleh berubah. Nilai baik tidak harus ikut hilang.

Apa yang Harus Tetap Hidup?

Kalau suatu hari nanti bentuk-bentuk kehidupan Betawi berubah, apa yang ingin kita pastikan tetap hidup?

Mungkin jawabannya bukan hanya makanan, pakaian, atau kesenian.

Tetapi nilai yang ada di balik kehidupan itu.

Menghormati orang tua.

Menghargai guru.

Menjaga keluarga.

Menjaga silaturahmi.

Peduli kepada tetangga dan sesama.

Berani bekerja keras.

Memiliki adab.

Dan memiliki pegangan agama dalam menjalani kehidupan.

Kita mungkin tidak bisa memastikan semua bentuk masa lalu tetap sama. Tetapi kita bisa berusaha memastikan nilai baiknya tetap hidup.

Islam Tetap Menjadi Bagian dari Akar

Dalam kehidupan masyarakat Betawi, Islam memiliki kedekatan yang kuat dengan keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Karena itu, ketika kita membayangkan masa depan Betawi, kita juga perlu membayangkan generasi yang maju tanpa kehilangan pegangan agamanya.

Anak Betawi bisa menguasai teknologi.

Bisa menjadi pengusaha besar.

Bisa menjadi profesional.

Bisa berkarya di panggung dunia.

Tetapi tetap memiliki adab, tetap menghormati orang tua, tetap menjaga keluarga, dan tetap menjadikan nilai agama sebagai bagian dari kehidupannya.

Kita ingin generasi yang maju tanpa tercerabut dari akar nilai dan agamanya.

Betawi Harus Hadir di Ruang Baru

Kalau kita ingin Betawi tetap hidup, kita juga harus berani membawa Betawi ke ruang-ruang baru.

Ke dunia digital.

Ke industri kreatif.

Ke dunia usaha.

Ke pendidikan.

Ke teknologi.

Ke media.

Ke berbagai profesi yang mungkin bahkan belum ada hari ini.

Anak muda Betawi tidak harus hanya menjadi penjaga tradisi.

Mereka juga harus menjadi pencipta masa depan.

Jangan Takut pada Anak Muda

Kadang kita khawatir ketika anak muda melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Mereka memakai bahasa yang berbeda. Menggunakan media yang berbeda. Membuat musik yang berbeda. Membuat bisnis dengan cara yang berbeda.

Tetapi mungkin justru di sanalah masa depan kebudayaan berada.

Kita tidak perlu memaksa mereka menjadi seperti generasi kita.

Kita hanya perlu memastikan mereka mengenal akarnya dan memahami nilainya.

Generasi baru tidak harus mengulang cara kita. Mereka perlu diberi kesempatan menemukan cara mereka sendiri.

Dari Pelestarian Menuju Pertumbuhan

Pelestarian sering kali membuat kita berpikir tentang bagaimana sesuatu tetap bertahan.

Tetapi mungkin kita perlu berpikir lebih jauh.

Bagaimana kalau Betawi bukan hanya bertahan?

Bagaimana kalau Betawi juga tumbuh?

Bagaimana kalau identitas Betawi justru menjadi sumber kreativitas, karya, dan peluang bagi generasi baru?

Kita tidak hanya ingin Betawi bertahan. Kita ingin Betawi berkembang.

Karena budaya yang sehat bukan budaya yang takut terhadap perubahan.

Budaya yang sehat adalah budaya yang mampu tumbuh tanpa kehilangan dirinya.

Membayangkan Anak Betawi di Masa Depan

Saya membayangkan anak Betawi beberapa puluh tahun dari sekarang.

Ia mungkin tinggal di kota yang jauh lebih modern.

Ia mungkin bekerja dengan teknologi yang hari ini belum kita kenal.

Ia mungkin memiliki teman dari berbagai belahan dunia.

Tetapi ketika ia berbicara tentang keluarganya, ia masih memahami pentingnya menghormati orang tua.

Ketika bertemu gurunya, ia masih tahu bagaimana bersikap.

Ketika melihat tetangganya membutuhkan bantuan, ia masih merasa bahwa membantu sesama adalah sesuatu yang penting.

Dan ketika seseorang bertanya:

“Kamu orang mana?”

Ia menjawab dengan bangga:

“Saya anak Betawi.”

Itulah Betawi yang Kita Inginkan

Betawi yang tidak takut terhadap masa depan.

Betawi yang tidak malu dengan identitasnya.

Betawi yang terbuka terhadap ilmu dan perubahan.

Betawi yang memberi ruang kepada anak mudanya.

Betawi yang tetap menghargai keluarga, adab, kebersamaan, dan nilai agama.

Betawi yang mampu melahirkan karya.

Betawi yang mampu melahirkan pengusaha, profesional, seniman, pemimpin, dan generasi yang membawa manfaat.

Betawi yang kuat bukan Betawi yang berhenti di masa lalu. Betawi yang kuat adalah Betawi yang tahu apa yang tidak boleh hilang ketika melangkah ke masa depan.

BetawiBanget

Mungkin itulah alasan mengapa kita perlu melihat kebudayaan dengan cara yang lebih luas.

Bukan hanya tentang apa yang pernah ada.

Tetapi juga tentang apa yang ingin kita bangun.

Bukan hanya tentang siapa generasi sebelum kita.

Tetapi juga tentang siapa yang akan datang setelah kita.

Kita ingin Betawi tetap menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita.

Bukan karena semuanya masih persis seperti dahulu, tetapi karena nilai baik yang menjadi akarnya masih hidup.

Kita tidak sedang menjaga Betawi agar tetap menjadi masa lalu. Kita sedang menjaga agar Betawi punya masa depan.
Betawi Punya Masa Depan.

Dan masa depan itu tidak hanya akan diwariskan kepada kita.

Masa depan itu sedang kita bangun untuk generasi setelah kita.

Bangga Jadi Betawi.

Anak Betawi Bergerak.

BetawiBanget.id

Tentang Penulis
Deni Ardini

Founder BetawiBanget.id. Melalui BetawiBanget, Deni ingin ikut membangun cara pandang baru tentang kebudayaan Betawi: tetap berakar pada nilai-nilai kebaikan dan keislaman, namun terbuka terhadap perubahan, kreativitas, dan masa depan generasi muda.

Posting Komentar