Gambang Rancag: Tradisi Betawi yang Hampir Kita Lupakan

Daftar Isi

“Kadang kita tidak kehilangan sebuah tradisi karena tradisinya hilang. Kita kehilangan karena sudah tidak banyak lagi yang mengenalnya.”

— BetawiBanget.id

Kalau nama Gambang Kromong sudah cukup dikenal sebagai musik Betawi yang lahir dari pertemuan berbagai pengaruh budaya, nama Gambang Rancag mungkin masih terdengar asing. Bahkan bagi sebagian orang Betawi sendiri.

Padahal keduanya bukan hal yang sama.

Gambang Kromong adalah orkes musiknya. Sementara Gambang Rancag adalah teater tutur Betawi: pantun berkait yang dinyanyikan, diceritakan, dan diperankan secara langsung di hadapan penonton, dengan Gambang Kromong sebagai musik pengiringnya.

Tradisi ini bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016.

Tetapi ada kenyataan yang cukup membuat kita berhenti sejenak.

Dari 20 responden Betawi dalam sebuah survei akademik tahun 2024, 15 orang mengaku tidak mengetahui Gambang Rancag.

Bagaimana mungkin sebuah tradisi sudah berstatus warisan budaya nasional, tetapi namanya sendiri mulai asing di tengah masyarakat yang menjadi bagian dari akar budayanya?

Mungkin dari sinilah kita perlu mulai mengenalnya kembali.

Orkes Gambang Kromong grup Sinar Jaya—ansambel musik yang juga menjadi pengiring dalam pertunjukan Gambang Rancag. Foto: Chezumar, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Bukan Gambang Kromong, Tapi Teater Tutur

Kesalahpahaman yang paling mudah terjadi adalah menganggap Gambang Rancag sebagai nama lain dari Gambang Kromong.

Padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Gambang Kromong adalah ansambel musik yang memadukan sejumlah instrumen Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan shukong dengan instrumen Nusantara seperti gendang, kenong, dan gong.

Gambang Rancag berada di wilayah yang berbeda. Ia merupakan tradisi sastra lisan pertunjukan, berupa pantun berkait yang dilantunkan dengan tempo cepat oleh para juru rancag secara berbalas.

Gambang Kromong adalah musik pengiringnya. Gambang Rancag adalah cerita dan pantun yang hidup di atas panggung.

Pertunjukannya juga tidak sekadar membaca atau menghafalkan pantun. Dalam penelitian Sam Gilang Attas, proses penciptaan Gambang Rancag justru banyak bertumpu pada improvisasi berbasis formula.

Artinya, kemampuan seorang juru rancag bukan hanya mengingat syair, tetapi juga bagaimana ia merespons keadaan, memainkan kata, dan membangun cerita bersama lawan main serta penonton.

Bagaimana Pertunjukannya Berlangsung?

Dalam sejumlah dokumentasi dan penelitian, Gambang Rancag dikenal memiliki beberapa bagian dalam pertunjukannya.

Ada phobin, yaitu bagian pembukaan instrumental. Kemudian lagu sayur yang berfungsi sebagai selingan atau penghubung.

Setelah itu masuk ke bagian utama yang disebut ngerancag.

Di sinilah cerita disampaikan melalui lantunan pantun dan syair secara cepat dan berbalasan.

Karena sifatnya lisan dan improvisatif, pertunjukan Gambang Rancag tidak selalu terasa seperti pertunjukan yang kaku.

Justru ada ruang untuk spontanitas.

Penonton bukan hanya orang yang duduk dan melihat. Dalam tradisi seperti ini, suasana penonton dapat ikut memengaruhi bagaimana pertunjukan berkembang.

Cerita, Pantun, dan Kehidupan Masyarakat

Cerita yang dibawakan dalam Gambang Rancag tidak berdiri sendiri.

Ia mengambil bahan dari kehidupan yang dekat dengan masyarakat. Salah satu kisah yang banyak dibicarakan adalah cerita Si Pitung dan Si Jampang.

Pantun menjadi cara untuk menyampaikan cerita tersebut dengan bahasa yang hidup, cepat, dan mudah diterima oleh penonton.

Penelitian tentang rima dalam Gambang Rancag bahkan menunjukkan bahwa struktur pantunnya jauh lebih rumit daripada yang mungkin kita bayangkan.

Dalam satu kajian terhadap pantun bertema Si Pitung, ditemukan puluhan pola rima yang berbeda.

Ini menunjukkan bahwa Gambang Rancag bukan sekadar hiburan spontan. Di dalamnya terdapat keterampilan berbahasa, struktur sastra, kemampuan mengingat pola, sekaligus kemampuan berimprovisasi.

Benarkah Dulu Menjadi Cara Menyampaikan Kritik?

Ada satu cerita menarik mengenai fungsi sosial Gambang Rancag.

Sejumlah tulisan budaya menghubungkan tradisi ini dengan fungsi kritik sosial pada masa kolonial Belanda.

Cerita tentang tokoh seperti Si Pitung bahkan disebut sebagai salah satu cara menyampaikan pesan tentang perlawanan melalui cerita dan pantun.

Tetapi bagian ini perlu kita tempatkan dengan hati-hati.

Klaim tersebut memang muncul dalam sejumlah sumber budaya, tetapi sumber akademik langsung yang dapat memastikan fungsi kritik kolonial tersebut belum cukup kuat untuk kita nyatakan sebagai fakta sejarah yang sudah pasti.

Yang lebih jelas dari penelitian akademik adalah bahwa Gambang Rancag memang memiliki fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat penuturnya.

Penelitian Attas mengidentifikasi fungsi afirmasi, negasi, dan restorasi: menegaskan nilai budaya, mengkritik perilaku yang dianggap menyimpang, serta mempererat hubungan sosial.

Jadi pantun di dalam Gambang Rancag bukan hanya untuk didengar. Ia juga menjadi cara masyarakat berbicara tentang kehidupan.

Tradisi yang Pernah Hampir Hilang

Perjalanan Gambang Rancag tidak selalu berjalan mulus.

Tradisi ini mengalami pasang surut. Setelah perubahan politik pada pertengahan 1960-an, Gambang Rancag ikut terdampak karena pernah dikaitkan dengan propaganda politik.

Pada tahun 1970-an, perhatian terhadap kesenian Betawi kembali tumbuh, termasuk melalui kebijakan kebudayaan pada masa Gubernur Ali Sadikin.

Namun memasuki dekade berikutnya, Gambang Rancag kembali menghadapi persoalan regenerasi dan menurunnya minat generasi muda.

Sekitar 2009, upaya revitalisasi kembali dilakukan melalui kompetisi, pelatihan, dan pemberian penghargaan kepada para pelaku.

Beberapa nama juru rancag juga masih tercatat dalam dokumentasi, antara lain Jali Jalut (Rozali), Samad Modo, Amsar, dan Rame Reyot.

"Sudah Punah" pada 2016?

Ada bagian menarik dalam perjalanan dokumentasi Gambang Rancag.

Pada 16 Februari 2016, sebuah artikel MerahPutih.com bahkan menggunakan judul yang menyebut Gambang Rancag sebagai kesenian yang sudah punah.

Tetapi pada tahun yang sama, Gambang Rancag justru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemdikbud.

Bagaimana mungkin sesuatu yang disebut punah pada tahun yang sama justru dicatat sebagai warisan budaya?

Mungkin jawabannya tidak sesederhana hidup atau punah.

Sangat mungkin yang dimaksud dengan "punah" dalam pemberitaan tersebut adalah hilangnya kehidupan tradisi ini secara luas di masyarakat, bukan berarti tidak ada lagi orang yang mampu mempertunjukkannya.

Sebuah tradisi bisa saja masih memiliki maestro, tetapi kehilangan masyarakat yang mengenal dan menjalankannya.

Dan justru di situlah persoalannya menjadi lebih serius.

Warisan Budaya, tetapi Mulai Tidak Dikenal

Status sebagai Warisan Budaya Tak Benda tentu penting.

Tetapi sebuah tradisi tidak akan hidup hanya karena namanya tercatat dalam daftar warisan budaya.

Ia membutuhkan orang yang mengenalnya. Orang yang mau mempelajarinya. Orang yang mau mempertunjukkannya. Dan generasi baru yang merasa bahwa tradisi tersebut masih memiliki arti bagi kehidupan mereka.

Di sinilah hasil penelitian tahun 2024 menjadi penting.

Dari 20 responden Betawi yang diteliti, 15 orang tidak mengetahui Gambang Rancag.

Warisannya masih tercatat. Tetapi pengetahuannya mulai menghilang.

Angka itu memang berasal dari survei dengan jumlah responden yang kecil, sehingga tidak bisa dianggap mewakili seluruh masyarakat Betawi.

Tetapi temuan tersebut tetap memberi satu pesan penting: keberadaan administratif sebuah warisan budaya tidak selalu berarti tradisi tersebut masih dikenal luas oleh masyarakat.

Kenapa Hal Seperti Ini Bisa Terjadi?

Mungkin karena dunia berubah.

Cara orang mendapatkan hiburan berubah. Cara anak muda belajar berubah. Cara cerita disampaikan juga berubah.

Dulu, seseorang mungkin mengenal Gambang Rancag karena melihatnya langsung di lingkungan masyarakat.

Hari ini, seorang anak Betawi bisa tumbuh tanpa pernah melihat satu pun pertunjukan Gambang Rancag.

Bukan karena ia tidak peduli terhadap Betawi.

Bisa jadi karena memang tidak pernah ada kesempatan baginya untuk mengenal tradisi tersebut.

Tradisi Tidak Akan Hidup Hanya Karena Kita Menyuruh Anak Muda Menjaganya

Kalau kita ingin Gambang Rancag tetap hidup, mungkin pendekatannya tidak cukup dengan mengatakan: "anak muda harus melestarikan budaya."

Kita perlu membuat mereka mengenal terlebih dahulu.

Mereka perlu tahu ceritanya. Mendengar musiknya. Melihat bagaimana pantunnya dimainkan. Mengenal para pelakunya. Dan memahami kenapa tradisi tersebut pernah penting bagi masyarakat.

Setelah mengenal, barulah muncul kemungkinan untuk mencintai.

Dan setelah mencintai, mungkin muncul keinginan untuk meneruskan.

Kita tidak bisa meminta generasi baru menjaga sesuatu yang bahkan belum pernah mereka kenal.

Gambang Rancag Tidak Harus Kembali Persis Seperti Dulu

Ada satu hal yang menurut saya penting.

Kalau kita ingin sebuah tradisi hidup kembali, kita tidak harus memaksanya kembali persis seperti masa lalu.

Yang perlu kita jaga adalah pengetahuan, nilai, cerita, dan identitas yang ada di dalamnya.

Bentuk penyampaiannya mungkin bisa berkembang.

Cerita bisa masuk ke media digital. Dokumentasi bisa dibuat lebih mudah diakses. Anak muda bisa mengenalnya melalui video, musik, pertunjukan, pendidikan, atau karya kreatif baru.

Yang penting, jangan sampai karena bentuknya berubah, kita menganggap tradisinya tidak lagi Betawi.

Tradisi yang hidup bukan berarti tradisi yang tidak pernah berubah. Tradisi yang hidup adalah tradisi yang masih punya arti.

Mungkin Kita Memang Perlu Mengenalnya Lagi

Gambang Rancag mungkin tidak sepopuler Gambang Kromong.

Namanya mungkin tidak langsung dikenali ketika disebut.

Bahkan sebagian orang Betawi sendiri mungkin baru pertama kali mendengarnya ketika membaca tulisan ini.

Tetapi justru karena itulah ia layak dibicarakan.

Bukan untuk membuat kita bernostalgia dengan masa lalu.

Melainkan supaya kita tahu bahwa pernah ada sebuah cara masyarakat Betawi bercerita, bermain kata, menyampaikan nilai, menghibur, sekaligus berbicara tentang kehidupan.

Dan cara itu bernama Gambang Rancag.

Warisan Bukan Hanya untuk Disimpan

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan: "Apakah Gambang Rancag masih ada?"

Tetapi:

"Apakah masih ada yang mau mengenalnya?"

Karena sebuah warisan budaya tidak benar-benar hidup hanya karena namanya tercatat dalam sebuah dokumen.

Ia hidup ketika masih ada manusia yang mengenal, memahami, menjalankan, dan menceritakannya kepada orang lain.

Mungkin pekerjaan kita hari ini sederhana: mengenalnya kembali.

Setelah itu, biarkan generasi berikutnya menemukan cara mereka sendiri untuk membawanya ke masa depan.

Fakta Singkat Gambang Rancag
  • Gambang Rancag adalah teater tutur Betawi berupa pantun berkait yang dinyanyikan dan diperankan secara berbalas.
  • Gambang Kromong adalah ansambel musik yang menjadi salah satu pengiring Gambang Rancag. Keduanya bukan nama untuk tradisi yang sama.
  • Pertunjukan Gambang Rancag mengenal bagian seperti phobin, lagu sayur, dan ngerancag.
  • Cerita Si Pitung dan Si Jampang termasuk tema yang banyak dibahas dalam kajian Gambang Rancag.
  • Gambang Rancag ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016. Dokumen Pemprov DKI Jakarta juga mencatatnya dalam daftar WBTB tingkat provinsi sejak 2014.
  • Penelitian akademik tahun 2024 terhadap 20 responden Betawi menemukan 15 responden tidak mengetahui Gambang Rancag.

Pertanyaan Umum Seputar Gambang Rancag

Apa itu Gambang Rancag?

Gambang Rancag adalah tradisi teater tutur Betawi berupa pantun berkait yang dinyanyikan dan diperankan secara berbalas oleh para juru rancag, dengan musik Gambang Kromong sebagai pengiringnya.

Apa perbedaan Gambang Rancag dan Gambang Kromong?

Gambang Kromong adalah ansambel musik, sedangkan Gambang Rancag adalah tradisi sastra lisan dan pertunjukan. Gambang Kromong dapat menjadi musik pengiring dalam pertunjukan Gambang Rancag.

Bagaimana struktur pertunjukan Gambang Rancag?

Sejumlah kajian menjelaskan tiga bagian utama, yaitu phobin sebagai pembukaan instrumental, lagu sayur sebagai selingan atau transisi, dan ngerancag sebagai bagian utama ketika cerita dilantunkan secara berbalas.

Cerita apa yang biasa dibawakan dalam Gambang Rancag?

Salah satu tema yang banyak dibahas dalam penelitian adalah kisah Si Pitung dan Si Jampang. Cerita disampaikan melalui pantun dan lantunan sastra lisan dengan pola rima tertentu.

Apakah Gambang Rancag merupakan kritik sosial?

Sejumlah sumber budaya mengaitkannya dengan fungsi kritik sosial, termasuk cerita tentang tokoh seperti Si Pitung. Namun klaim mengenai fungsi kritik terhadap pemerintah kolonial perlu dibaca secara hati-hati karena dokumentasi akademik langsung yang mengonfirmasinya masih terbatas.

Apakah Gambang Rancag sudah punah?

Tidak tepat jika langsung menyebutnya punah secara mutlak. Ada pemberitaan tahun 2016 yang menyebut Gambang Rancag sudah punah, tetapi pada tahun yang sama tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kondisinya lebih tepat digambarkan sebagai tradisi yang sangat kritis dan menghadapi persoalan regenerasi serta rendahnya pengetahuan masyarakat.

Kapan Gambang Rancag ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda?

Gambang Rancag ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016 oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemdikbud. Dokumen Pemprov DKI Jakarta mencatatnya dalam daftar WBTB tingkat provinsi sejak 2014.

Mengapa Gambang Rancag mulai kurang dikenal?

Salah satu persoalan utamanya adalah perubahan zaman dan regenerasi. Penelitian tahun 2024 terhadap 20 responden Betawi menemukan 15 responden tidak mengetahui Gambang Rancag, menunjukkan bahwa pengetahuan tentang tradisi ini sudah tidak merata di masyarakat.

Sumber & Referensi
  1. Attas, S.G. (2015). Proses Penciptaan Gambang Rancag dalam Konteks, Fungsi, Makna, dan Model Pelatihan di Masyarakat. Disertasi Doktoral, Universitas Pendidikan Indonesia.
  2. Attas, S.G. (2019). Struktur, Fungsi, dan Sistem Pewarisan Tradisi Lisan Gambang Rancag pada Masyarakat Betawi. LITERA, Vol. 18 No. 1.
  3. Attas, S.G. LOKABASA, Vol. 4 No. 2. DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3144.
  4. Attas, S.G., Azmin, G.G., & Marwiah. Reinterpreting the Gambang Rancag Oral Tradition. Proceedings of the International Conference on Literature, Universitas Syiah Kuala.
  5. Jayakandi, Amri, T.Z., & Rizkian, M.F. (2024). Eksistensi Tradisi Sastra Lisan Gambang Rancag dalam Masyarakat Betawi. Nitisara: Jurnal Ilmu Bahasa, Vol. 2 No. 2.
  6. Jayakandi, Arifin, E.Z., & Sumadyo, B. (2021). Rima dan Makna Pantun dalam Tradisi Lisan Gambang Rancag. Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, Vol. 4 No. 2.
  7. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemdikbud. Gambang Rancag, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016.
  8. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, Kemdikbud. Gambang Rancag, Seni Pantun dari Betawi.
  9. Basis Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia, entri Gambang Rancag.
  10. Pemprov DKI Jakarta, PPID. Warisan Budaya Takbenda Provinsi DKI Jakarta.
  11. Flo, E. (2016). Gambang Rancag Kesenian Betawi Yang Punah. MerahPutih.com, 16 Februari 2016.
  12. Seni Budaya Betawi. Gambang Rancag, Seni Pantun Khas Betawi dan Pesona Pantun dalam Gambang Rancag.
  13. emmanus.com. Seni Gambang Rancag Betawi Ingin Bangkit Kembali.
  14. Gambar Gambang Kromong: Chezumar, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.
Gambang Rancag

Sebuah tradisi tidak harus selalu ramai untuk menjadi bagian penting dari sejarah.

Tetapi ia perlu dikenali agar tidak benar-benar hilang.

Bangga Jadi Betawi.

Anak Betawi Bergerak.

BetawiBanget.id

Catatan Founder
Deni Ardini

Founder BetawiBanget.id. Melalui BetawiBanget, Deni ingin ikut merawat cerita, tradisi, dan pengetahuan tentang masyarakat Betawi agar tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.

Posting Komentar