Ismail Marzuki: Komponis Betawi yang Berjuang Lewat Lagu
Ismail Marzuki, komponis kelahiran Kwitang yang lagu-lagunya jadi bagian dari denyut nasionalisme Indonesia. (Domain Publik/Wikimedia Commons)
Kalau Anda pernah nyanyi "Halo-Halo Bandung" waktu upacara sekolah, atau denger "Rayuan Pulau Kelapa" mengalun di siaran televisi menjelang 17 Agustus, sebenarnya Anda lagi mendengar suara hati seorang anak Kwitang yang gak pernah angkat senjata, tapi ikut berjuang lewat not-not balok. Itulah Ismail Marzuki—komponis yang buktiin, alat musik pun bisa jadi senjata perlawanan.
Anak Kwitang yang Kehilangan Ibu Sejak Bayi
Ismail Marzuki lahir 11 Mei 1914 di Kwitang, Jakarta. Hidupnya sudah diuji sejak awal—ibunya wafat hanya tiga bulan setelah ia lahir, membuatnya dibesarkan oleh kakak perempuannya. Dari empat bersaudara anak pasangan Marzuki, hanya Ismail dan kakaknya, Anie Hamimah, yang bertahan hidup sampai dewasa. Pendidikannya ditempuh di HIS Idenburg Menteng sampai kelas 7, dilanjutkan ke MULO di Jalan Menjangan, sembari mendalami pendidikan agama di Madrasah Unwanul Wustha.
Dari Kasir Pom Bensin ke Panggung Musik
Sebelum jadi komponis besar, Ismail sempat bekerja sebagai kasir di Socony Service Station. Namun panggilan sejatinya baru ditemukan setelah ia bekerja di K.K. Knies, toko musik yang menjual piringan hitam Polydor. Kecintaannya pada musik—dari lagu-lagu Barat sampai keroncong—makin terasah, sampai akhirnya di tahun 1936 ia bergabung dengan orkes Lief Java pimpinan Hugo Dumas. Di sinilah ia mulai berkarier sebagai musisi, penyanyi, sekaligus komponis, bahkan memperkenalkan akordeon ke dalam lagu-lagu berbahasa Melayu.
Lagu yang Terdengar Sampai Belanda
Lewat siaran NIROM, nama Ismail Marzuki makin dikenal berkat aransemen orkestra dan lagu-lagu ciptaannya. Salah satu komposisinya di tahun 1939 bahkan mendapat pengakuan internasional—stasiun radio Hilversum di Belanda menyiarkannya setiap hari atas permintaan pendengar. Ia sempat memimpin Studio Orkes Ketimuran dari Bandung, lalu membentuk kelompok kuartet Empat Sekawan yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat jalur kesenian.
Mengubah Musik Jadi Alat Perjuangan
Di masa pendudukan Jepang, Ismail mengubah haluan bermusiknya jadi alat perjuangan, menciptakan lagu-lagu bernuansa patriotik buat membakar semangat kebangsaan rakyat Indonesia—termasuk Gagah Perwira dan Indonesia Tanah Pusaka. Aktivismenya bukan tanpa risiko: ia sempat dilaporkan ke Kempetai, polisi militer Jepang, gara-gara menyebarluaskan karya-karya bertema kemerdekaan lewat siaran radio. Ia juga berkolaborasi dengan komponis Cornel Simanjuntak menciptakan Maju Tak Gentar buat mengobarkan semangat sukarelawan Peta.
Warisan Lagu yang Gak Lekang Zaman
Sepanjang kariernya, Ismail Marzuki tercatat menciptakan sekitar 202 lagu, karya terakhirnya rampung pada 13 Desember 1957. Di antara koleksi karyanya yang paling dikenang sampai sekarang: Indonesia Pusaka, Halo-Halo Bandung yang mengenang semangat perlawanan Bandung pasca-1946, Rayuan Pulau Kelapa, Gugur Bunga yang mengenang para pejuang gugur, Juwita Malam, O Sarinah, sampai Hari Lebaran yang liriknya jadi ucapan khas Lebaran orang Indonesia sampai kini.
Wafat Muda, Dikenang Selamanya
Ismail menikah dengan Eulis Zuraidah, penyanyi keroncong sekaligus vokalis Sunda asal Bandung. Di masa-masa akhir hidupnya, ia menderita tuberkulosis dan gangguan pendengaran, sebelum akhirnya berpulang pada 25 Mei 1958 di usia 44 tahun. Empat puluh enam tahun kemudian, tepatnya 5 November 2004, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya lewat Keppres No. 089/TK/2004—pengakuan langka, mengingat tak banyak pahlawan nasional yang berasal dari bidang seni. Sejak 1968, namanya juga diabadikan lewat Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Cikini, pusat kesenian yang sampai sekarang masih jadi salah satu jantung kebudayaan Jakarta.
Fakta Singkat
- Ismail Marzuki lahir 11 Mei 1914 di Kwitang, Jakarta, dan kehilangan ibunya sejak bayi.
- Kariernya dimulai lewat orkes Lief Java pada 1936, memperkenalkan akordeon ke lagu-lagu Melayu.
- Menciptakan sekitar 202 lagu, termasuk Indonesia Pusaka, Halo-Halo Bandung, dan Rayuan Pulau Kelapa.
- Wafat 25 Mei 1958 akibat tuberkulosis, di usia 44 tahun.
- Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2004; namanya diabadikan lewat Taman Ismail Marzuki (TIM) sejak 1968.
Catatan redaksi: frasa "Halo-Halo Bandung yang mengenang semangat perlawanan Bandung pasca-1946" membingungkan, karena peristiwa Bandung Lautan Api yang dikenang lagu ini terjadi pada Maret 1946 dan lagunya sendiri diciptakan sekitar tahun yang sama, bukan "pasca" atau setelah 1946—frasa ini perlu diperjelas sebelum tayang.

Posting Komentar