KH Noer Alie: Singa Karawang-Bekasi, Ulama Pejuang Betawi
KH Noer Alie, ulama dan pejuang kemerdekaan yang dijuluki "Singa Karawang-Bekasi." (Rootmedia/CC BY-SA 4.0/Wikimedia Commons)
Orang Belanda dulu ketar-ketir tiap denger namanya disebut. Bukan cuma karena KH. Noer Alie jago menggerakan para pejuang lewat pengajian, tapi karena KH. Noer Alie beneran angkat senjata, mimpin santri-santrinya bergerilya ngelawan penjajah. Dari situlah lahir julukan yang bikin gentar: Singa Karawang-Bekasi. Padahal aslinya, beliau cuma anak petani sederhana dari kampung Ujung Harapan.
Anak Petani dari Ujung Harapan
KH Noer Alie lahir tahun 1914 di Desa Ujung Harapan, Bahagia, Bekasi, dari pasangan H Anwar dan Hj Maimunah—keluarga petani sederhana yang cukup dihormati di kampungnya. Dari latar belakang yang bersahaja inilah kelak lahir sosok yang jadi salah satu tokoh perlawanan paling disegani di kawasan Betawi pinggiran dan Bekasi.
Enam Tahun Menuntut Ilmu di Makkah
Tahun 1934, Noer Alie berangkat ke Makkah buat menunaikan haji sekaligus mendalami ilmu agama, dan menetap di sana selama enam tahun. Ia berguru pada ulama-ulama besar seperti Syekh Muhammad Al-Maliki, Syaikh Umar Hamdan, dan Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi. Selama di tanah suci, ia juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Betawi, komunitas pelajar asal Batavia yang menuntut ilmu di Makkah—bukti bahwa identitas Betawinya tetap ia bawa bahkan sampai jauh dari kampung halaman.
Pulang Kampung, Dirikan Pesantren
Sekembalinya ke Indonesia pada 1940, Noer Alie mendirikan pesantren buat menyebarkan ilmu agama sekaligus jadi basis perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Pesantren yang kelak dikenal sebagai Attaqwa ini gak cuma jadi tempat mengaji, tapi juga tumbuh jadi pusat pergerakan yang menghimpun santri dan masyarakat sekitar buat mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
Bergerilya Bersama Ratusan Santri
Dua tahun setelah proklamasi 1945, Noer Alie memimpin ratusan santrinya dalam operasi gerilya melawan Belanda di kawasan Karawang-Bekasi. Ia memimpin laskar Hizbullah Sabilillah dengan taktik-taktik cerdik, salah satunya mengibarkan bendera merah putih buat memancing reaksi emosional tentara Belanda. Perjuangannya bukan tanpa pengorbanan besar—catatan resmi mendokumentasikan jatuhnya korban dari pihak warga sipil akibat pertempuran yang berkecamuk di wilayah tersebut.
Singa yang Selalu Lolos dari Kejaran
Julukan "Singa Karawang-Bekasi" yang melekat pada Noer Alie mencerminkan kegigihannya berulang kali meloloskan diri dari kejaran militer Belanda, sekaligus kepemimpinannya atas laskar Hizbullah Sabilillah yang jadi momok bagi pasukan kolonial di kawasan tersebut. Nama itu bukan sekadar julukan kosong, tapi pengakuan langsung dari lawan-lawannya sendiri atas keberanian dan kelihaiannya di medan gerilya.
Warisan Attaqwa yang Terus Hidup
KH Noer Alie wafat pada 29 Januari 1992, meninggalkan warisan besar lewat Pesantren Attaqwa di Bekasi yang sampai sekarang masih menampung ribuan santri. Perjuangannya sebagai ulama sekaligus pejuang kemerdekaan akhirnya mendapat pengakuan resmi negara—pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 2006, empat belas tahun setelah kepergiannya. Cucu-cucunya kini meneruskan perjuangan sang kakek lewat pengelolaan pesantren, menjaga api yang dinyalakan Noer Alie tetap menyala buat generasi berikutnya.
Fakta Singkat
- KH Noer Alie lahir 1914 di Ujung Harapan, Bekasi, dari keluarga petani sederhana.
- Menuntut ilmu agama di Makkah selama enam tahun (1934-1940), aktif di Perhimpunan Pelajar Betawi.
- Mendirikan pesantren yang kelak dikenal sebagai Attaqwa sekembalinya ke Indonesia pada 1940.
- Memimpin laskar Hizbullah Sabilillah bergerilya melawan Belanda di Karawang-Bekasi, dijuluki "Singa Karawang-Bekasi."
- Wafat 29 Januari 1992; dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 2006.
Catatan redaksi: penyebutan "jatuhnya korban dari pihak warga sipil akibat pertempuran" merujuk secara implisit pada peristiwa yang lebih dikenal luas sebagai Pembantaian Rawagede (Desember 1947), namun artikel ini tidak menyebutkan nama peristiwa atau angka korban secara eksplisit — sumber independen mencatat angka korban warga sipil mencapai ratusan orang, dan pemerintah Belanda secara resmi meminta maaf atas peristiwa ini pada 2011; detail dan angka pastinya perlu ditelusuri lebih lanjut dari sumber yang lebih spesifik.

Posting Komentar