Maulid Nabi di Tanah Betawi: Tradisi Barzanji, Petasan, dan Kwitang
Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, perintis Majelis Taklim Kwitang dan tradisi "Maulid Akhir Kamis" yang bertahan hampir satu abad. (Domain Publik/Wikimedia Commons)
Di kampung-kampung Betawi, malam menjelang Maulid selalu punya bunyi yang khas: lantunan syair Barzanji yang dilagukan bersahutan, diselingi letusan petasan dari anak-anak yang gak sabar merayakan hari lahir Nabi. Buat orang Betawi, Maulid Nabi bukan cuma peringatan keagamaan yang khidmat, tapi juga hajatan kampung—momen kumpul, berbagi makanan, dan mempererat silaturahmi yang udah berlangsung turun-temurun.
Lebih dari Sekadar Peringatan, Ini Hajatan Kampung
Bagi masyarakat Betawi, Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan semangat yang jauh lebih meriah dibanding sekadar mengikuti ceramah di masjid. Tradisi ini sudah mendarah daging jadi bagian dari denyut kehidupan kampung, di mana warga berkumpul bersama, saling berbagi makanan, dan menghidupkan kembali ikatan sosial antar tetangga. Perayaan Maulid di kampung Betawi biasa digelar di masjid, musala, atau bahkan halaman rumah warga secara bergiliran, menjadikannya perayaan yang benar-benar lahir dari dan untuk masyarakat itu sendiri.
Syair Barzanji, Jantung dari Setiap Perayaan
Elemen paling khas dari Maulid ala Betawi adalah pembacaan syair Barzanji—kisah kelahiran dan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang dilagukan dengan irama khas, biasa dibaca bersahutan oleh jamaah secara bergantian. Tradisi Barzanji ini bukan cuma ritual keagamaan, tapi juga jadi ruang pewarisan seni vokal dan sastra lisan yang diajarkan dari generasi tua ke generasi muda, sering dipraktikkan di majelis-majelis taklim dan pengajian kampung menjelang malam 12 Rabiul Awal.
Petasan yang Menyambut Kelahiran Sang Nabi
Selain lantunan Barzanji, suara petasan jadi penanda khas perayaan Maulid di kampung-kampung Betawi. Tradisi menyalakan petasan ini dipercaya sebagai ekspresi kegembiraan menyambut kelahiran Nabi, mirip semangat yang sama waktu menyambut malam takbiran. Kombinasi lantunan syair yang khidmat dengan suara petasan yang riuh inilah yang bikin suasana Maulid di kampung Betawi terasa unik—perpaduan antara kekhusyukan spiritual dan kemeriahan sosial.
Kwitang dan Tradisi Maulid yang Bertahan Hampir Satu Abad
Salah satu jejak sejarah paling penting dari tradisi Maulid di tanah Betawi ada di Kwitang, Jakarta Pusat, tempat Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (1889-1968) merintis majelis taklimnya sejak awal abad ke-20. Dari sanalah lahir tradisi yang dikenal sebagai "Maulid Akhir Kamis," peringatan Maulid rutin yang digelar tiap Kamis terakhir dan sampai sekarang masih terus dilestarikan oleh penerus dan jamaah Majelis Kwitang, bertahan hampir satu abad lamanya. Warisan ini jadi bukti betapa kuatnya akar tradisi Maulid dalam kehidupan keagamaan warga Betawi, melintasi generasi tanpa pernah benar-benar padam.
Silaturahmi yang Terus Terjaga
Di balik lantunan syair dan suara petasan, inti dari perayaan Maulid ala Betawi sebenarnya sederhana: mempererat silaturahmi. Warga kampung saling mengundang, berbagi hidangan, dan menghadiri pengajian di rumah tetangga secara bergiliran sepanjang bulan Rabiul Awal. Tradisi inilah yang menjaga Maulid tetap relevan sebagai perekat sosial, bukan sekadar seremoni keagamaan tahunan yang berlalu begitu saja.
Fakta Singkat
- Maulid Nabi di kampung Betawi dirayakan sebagai hajatan kampung, digelar bergiliran di masjid, musala, hingga rumah warga.
- Syair Barzanji, kisah kelahiran dan riwayat Nabi yang dilagukan, jadi elemen inti dari tiap perayaan Maulid Betawi.
- Petasan jadi penanda khas kemeriahan Maulid di kampung-kampung Betawi.
- Majelis Kwitang yang dirintis Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (1889-1968) mewariskan tradisi "Maulid Akhir Kamis" yang bertahan hampir satu abad.
- Inti perayaan Maulid ala Betawi adalah mempererat silaturahmi lewat kumpul dan berbagi makanan antarwarga.

Posting Komentar