Mengapa Budaya Betawi Cenderung Anti-Feodal dan Egaliter

Kalau diperhatiin, orang Betawi tuh jarang banget yang sok-sokan minta dihormatin cuma gara-gara jabatan atau harta. Mau die punya title panjang kek, mau die orang kaya kek, kalo ketemu di kampung ya tetep disapa "Bang" atau "None", bukan "Bapak Direktur" atau semacamnya. Nah, ini bukan kebetulan. Budaya Betawi emang dari sononya udeh anti-feodal.
Beda sama beberapa daerah lain yang masih kental sama sistem kasta atau tingkatan sosial yang kaku, orang Betawi lebih milih pola hubungan yang cair. Sopan santun tetep dijaga, tapi bukan berarti musti tunduk-tunduk kalo ketemu orang yang "lebih tinggi" posisinya. Prinsipnya sederhana: semua orang itu manusia, dan yang bikin dihormatin bukan status, tapi kelakuan.
Ini bisa jadi karena sejarah Betawi sendiri yang lahir dari percampuran macem-macem etnis, ada Sunda, Jawa, Melayu, Arab, Tionghoa, sampe Bugis, yang ketemu di satu wilayah tanpa ada satu kelompok yang "menguasai" secara sosial. Karena semua berbaur, gak ada ruang buat sistem feodal tumbuh subur kayak di kerajaan-kerajaan lama.
Makanya jangan heran kalo orang Betawi itu terkenal blak-blakan dan gampang bergaul, gak peduli ngomong sama sopir angkot atau sama pejabat, gayanya tetep sama aje. Buat orang Betawi, yang penting itu same-same manusia, bukan siapa yang lebih tinggi jabatannye.
Nilai egaliter ini justru jadi salah satu identitas kuat masyarakat Betawi sampe sekarang. Di tengah kota Jakarta yang makin modern dan berjenjang secara sosial, budaya "gak ada yang lebih tinggi dari yang laen" ini jadi pengingat bahwa keakraban dan kesetaraan itu tetep bisa dijaga, asal kite mau.
Posting Komentar