Murtado Si Macan Kemayoran: Jagoan Betawi di Balik Julukan Persija

Daftar Isi
Pencak silat Betawi, teknik melucuti golok lawan

Ilmu silat Betawi—termasuk teknik melucuti golok lawan tangan kosong—jadi bekal jagoan-jagoan macam Murtado Si Macan Kemayoran. (Foto: Gunawan Kartapranata via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Kalo denger julukan "Macan Kemayoran" yang melekat di klub Persija Jakarta, mungkin banyak yang ngira itu cuma nama keren buat maskot bola. Padahal, julukan itu diwarisin dari kisah nyata seorang jagoan Betawi tempo dulu bernama Murtado, yang keberaniannya ngelawan penindasan bikin namanya dikenang sampai sekarang.

Anak Lurah yang Tumbuh jadi Pembela Rakyat Kecil

Mengutip Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiani, dkk, 2009) yang dikutip Okezone, Murtado lahir pada 1869 di Kemayoran—sekarang masuk wilayah Jakarta Pusat—sebagai anak seorang mantan lurah setempat. Meski dari keluarga terpandang, Murtado dikenal nggak sombong, berhati lembut ke anak kecil, hormat ke orang tua, dan selalu siap nolong orang susah. Dia dibekali ilmu agama, pengetahuan, dan bela diri sejak kecil.

Waktu itu, Kemayoran nggak tenteram. Selain diganggu jawara-jawara kasar dari daerah lain, penduduknya juga tercekik pajak dan pungutan liar dari kaki tangan Kompeni Belanda—terutama dua sosok bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan, yang bertindak sewenang-wenang atas nama penguasa kolonial bernama Tuan Rusendal.

Berkelahi Demi Membela Kehormatan Warga

Perseteruan Murtado dengan Bek Lihun bermula saat sebuah upacara panen padi, ketika Mandor Bacan menghina seorang gadis kenalan Murtado dengan tuduhan curang soal ikatan padi. Murtado yang nggak terima langsung melabrak Mandor Bacan dan mengalahkannya dalam perkelahian.

Bek Lihun yang mendengar kejadian itu murka dan menantang Murtado langsung, lengkap dengan golok terselip di pinggang. Tapi dengan tangan kosong, Murtado berhasil menangkis serangan itu sampai goloknya terpental dan Bek Lihun tersungkur ke selokan. Sejak itu, Bek Lihun makin dendam dan berkali-kali mengirim tukang pukul bayaran buat mencelakai Murtado—mulai dari dua orang suruhan dari Tanjung Priok, sampai tiga jagoan dari Pondok Labu bernama Boseh, Kepleng, dan Boneng yang berusaha membunuhnya saat tidur. Semua upaya itu gagal berkat kejelian dan kemampuan bela diri Murtado.

Dari Musuh Jadi Sekutu Lawan Perampok

Titik balik hubungan mereka terjadi ketika Bek Lihun sendiri kepergok hendak berbuat jahat ke gadis kenalan Murtado, dan babak belur dihajar Murtado karenanya. Sejak itu, Bek Lihun mulai insyaf dan menghargai sosok Murtado.

Kesempatan itu datang ketika gerombolan perampok pimpinan Warsa mulai meresahkan Kemayoran, sampai bikin Bek Lihun kewalahan dan ditegur atasannya di Kompeni. Bek Lihun akhirnya minta bantuan Murtado. Bersama dua temannya, Saomin dan Sarpin, Murtado melacak sampai ke Karawang dan berhasil mengalahkan gerombolan Warsa, lalu mengembalikan semua harta rampasan ke pemiliknya di Kemayoran.

Menolak Jadi Kaki Tangan Penjajah

Berkat jasanya itu, pihak Belanda sampai menawarkan Murtado buat jadi Bek Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Tapi tawaran itu ditolaknya mentah-mentah—Murtado nggak mau jadi alat kekuasaan penjajah, dan lebih memilih hidup sebagai rakyat biasa yang terus menjaga keamanan dan membela warganya dari penindasan.

Menurut catatan yang sama, Murtado wafat pada 1959 di Kebon Sirih, Tanah Abang, Jakarta Pusat—jauh setelah era penjajahan berakhir, sebagai bukti bahwa dia sempat menyaksikan Indonesia merdeka.

Dari Nama Jagoan Jadi Julukan Klub Sepak Bola

Keberanian Murtado membela Kemayoran dari kesewenang-wenangan itulah yang kemudian melahirkan julukan "Macan Kemayoran" baginya. Nama itu terus hidup dalam cerita rakyat Betawi, dan belakangan diadopsi jadi julukan klub sepak bola Persija Jakarta—simbol keberanian dan ketangguhan yang diwariskan dari sosok jawara Kemayoran ini ke identitas sepak bola ibu kota.

Catatan redaksi: Kisah Murtado beredar sebagai cerita rakyat (folklor) yang diwariskan turun-temurun, dengan detail yang bisa bervariasi antar sumber. Artikel ini merujuk pada versi yang tercatat dalam Ensiklopedia Jakarta dan dikutip ulang oleh sejumlah media, namun sebagian rincian—seperti nama-nama tokoh pendukung dan urutan kejadian—kemungkinan mengandung unsur penuturan lisan yang telah mengalami penyesuaian dari masa ke masa.

Posting Komentar