Pengaruh Arab dalam Budaya Betawi: dari Pekojan sampai Majelis Taklim

Daftar Isi
Masjid Jami Annawier di Pekojan, Jakarta

Masjid Jami Annawier di Pekojan, Jakarta Barat — salah satu jejak permukiman tua komunitas Arab Hadhrami di Batavia. Foto: Cun Cun via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Setiap kali warga Betawi menyapa dengan "ente" dan "ane", atau berkumpul di majelis taklim menjelang maulid, sesungguhnya mereka sedang merawat jejak yang ditanam berabad-abad lalu oleh para pedagang dan ulama dari Hadramaut. Dari kampung sempit bernama Pekojan, pengaruh itu menyebar diam-diam ke bahasa, agama, kuliner, hingga busana pengantin Betawi.

Dari Pekojan ke Jantung Batavia

Migrasi besar orang Arab dari Hadramaut, Yaman selatan, ke Batavia mengalami lonjakan signifikan setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869, yang memangkas jarak tempuh pelayaran dari Jazirah Arab ke Nusantara. Mereka datang bukan sekadar untuk berdagang, tetapi juga membawa misi dakwah Islam, menetap di sebuah kampung yang semula justru dihuni orang Koja dari India sebelum berangsur didominasi Arab—itulah asal nama Pekojan.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan wijkenstelsel, sistem yang memaksa penduduk "Timur Asing" seperti Arab, Tionghoa, dan India tinggal terpisah dari orang Eropa maupun pribumi di kampung-kampung tertentu yang diawasi ketat, lengkap dengan passenstelsel berupa surat jalan bila hendak bepergian keluar wilayah. Sejarawan Ahmad Athoillah dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, dalam jurnal Lembaran Sejarah, mencatat adanya pergeseran permukiman Hadhrami di Pekojan pada awal abad ke-19 yang menandai bagaimana komunitas ini lambat laun membangun jejaring identitas sosial lewat masjid, majelis pengajian, dan jaringan dagang grosir. Dari kampung inilah lahir organisasi modernis Jamiat Kheir pada 1901, yang mendirikan sekolah gratis pertamanya pada 1909.

Jejak dalam Lidah Betawi

Interaksi berabad-abad itu meninggalkan bekas kuat pada bahasa. Kajian linguistik mencatat bahwa bahasa Betawi memiliki banyak kata serapan Hokkien, Arab, Portugis, dan Belanda—dengan kata ganti ané ("saya") dan ente ("kamu") disebut eksplisit berasal dari bahasa Arab, merujuk pada kajian Rahman (2021) tentang kebudayaan masyarakat keturunan Arab di Jakarta. Penjelasan populer menyebut ente berasal dari antum dan ane dari ana, meski mekanisme pergeseran bunyi secara filologis masih memerlukan kajian lebih rinci. Selain kata ganti, kosakata keagamaan sehari-hari seperti alhamdulillah, insya Allah, masya Allah, dan sapaan ustad/ustadzah juga mengalir deras ke percakapan Betawi lewat pengajian dan pergaulan dengan komunitas Arab-Muslim di Pekojan, Kwitang, dan Tanah Abang.

Habib, Maulid, dan Denyut Islam Betawi

Pengaruh Arab paling terasa justru dalam praktik keislaman warga Betawi, terutama lewat para habib keturunan Hadhrami. Habib Usman bin Yahya diangkat sebagai Mufti Batavia pada 1862, kemudian menjabat Adviseur Honorer urusan Arab di kantor kolonial (1899–1914), dan menulis lebih dari 116 kitab yang menurut Islamic Center Indonesia "sampai hari ini... masih terus dikaji di mana-mana".

Murid dari jejaring keilmuan itu, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi—akrab disapa Habib Ali Kwitang (1870–1968), lahir dari ayah Hadhrami dan ibu asli Jatinegara bernama Nyai Salmah—mendirikan majelis taklim pertama yang terstruktur di tanah Betawi. Ketua pengurus Masjid Al Riyadh, Nurdin Abdurahman, menuturkan kepada CNN Indonesia bahwa rumah pribadi Habib Ali "beliau korbankan... menjadi tempat belajar", cikal bakal model majelis taklim yang menyebar ke seluruh Nusantara. Warisan tarekat, ziarah ke makam para habib, dan budaya majelis taklim yang masih hidup di Jakarta hari ini adalah kelanjutan langsung dari pola dakwah ala Hadhrami tersebut.

Nasi Kebuli dan Bawang Goreng Betawi

Di dapur, akulturasi Arab tampak lewat hidangan seperti nasi kebuli, gulai, dan roti maryam. Sejarawan Alwi Shahab menjelaskan bahwa orang Arab sebenarnya mengenal nasi—yang bukan makanan pokok asli Jazirah Arab—lewat India, sehingga masakan berbasis nasi mutlak berbahan utama beras basmati yang hanya ada di wilayah India: sebuah rantai pengaruh Arab-India-Betawi yang berlapis. Penulis kuliner Gagas Ulung dan Deerona, dalam Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa, mencatat para jurumasak Kerala, India, yang dibawa saudagar Gujarat, bertanggung jawab memperkenalkan nasi kebuli kepada orang Nusantara. Adaptasi lokalnya pun kentara: Salim al Kaff, pemilik Rumah Makan Abu Salim, menyebut kepada Historia.id bahwa "pengaruh lokal yang paling kentara di makanan Arab... adalah penaburan bawang goreng di setiap makanan utama".

Jubah dan Sorban di Pelaminan

Pengaruh Arab juga mencolok pada busana pengantin pria Betawi. Jubah yang dikenakan mempelai pria lebih menyerupai jubah dari jazirah Arab, hasil kontak dagang di Sunda Kelapa, dan melambangkan penghormatan terhadap Nabi Muhammad serta simbol kereligiusan dan keagungan. Penutup kepala berupa alpie—lilitan serban putih atau terang—menyimbolkan kepatuhan dan keimanan calon pengantin lelaki, demikian dicatat Liputan6.com. Peci dan gamis dalam keseharian warga Betawi Muslim juga merupakan kelanjutan estetika yang sama.

Peranakan Arab dan Asimilasi

Percampuran darah Arab-Betawi lewat perkawinan sudah berlangsung sejak fase awal migrasi. Antropolog Prof. Yasmine Zaki Shahab—yang memiliki latar belakang keluarga Hadhrami sendiri—menulis sejumlah kajian penting soal integrasi minoritas Arab di Jakarta, termasuk disertasi doktoral tentang penciptaan tradisi etnis Betawi, menjadikannya salah satu otoritas akademik terpenting soal titik temu dua identitas ini. Peneliti Heru Erwantoro dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung turut mencatat, mengutip pendapat M. Junus Melalatoa, bahwa pengaruh kebudayaan Arab sudah berlangsung sejak abad ke-19 sebagai bagian dari proses akulturasi berlapis yang membentuk etnis Betawi bersama unsur Portugis, Tionghoa, Belanda, dan penduduk lokal.

Fakta Singkat

  • Migrasi besar Arab Hadhrami ke Batavia melonjak setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869.
  • Kata ganti "ente" dan "ane" dalam bahasa Betawi berasal dari bahasa Arab.
  • Habib Usman bin Yahya menjabat Mufti Batavia sejak 1862 dan menulis lebih dari 116 kitab.
  • Habib Ali Kwitang (1870–1968) mendirikan majelis taklim terstruktur pertama di tanah Betawi.
  • Jubah dan sorban pengantin pria Betawi adalah warisan langsung busana Arab.

Catatan redaksi: sejumlah klaim populer dalam tradisi lisan (seperti detail baku kapan busana Arab menjadi standar adat Betawi) belum sepenuhnya dapat diverifikasi lewat sumber akademik primer dan disajikan dengan penanda kehati-hatian di atas.

Posting Komentar