Rebana Biang: Kesenian Religi Betawi yang Kini Cuma Disisakan Satu Grup di Jakarta

Berapa jumlah rebana dalam satu ansambel Rebana Biang? Pertanyaan sesederhana ini saja tidak punya jawaban tunggal. Wikipedia dan sejumlah situs budaya menyebut tiga rebana bertingkat ukuran; Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sendiri—sumber resmi pemerintah—menyebut empat, dengan ukuran biang yang juga berbeda dari versi lain. Ini baru soal instrumen; tahun kemunculannya di tanah Betawi disebut beragam antara sekitar 1825, sekitar 1860, hingga "abad ke-18" dalam satu sumber yang bahkan menyebut dua tahun berbeda pada tulisan yang sama. Artikel ini menyajikan seluruh percabangan itu apa adanya, karena justru itulah gambaran jujur tentang kesenian yang sumber tertulisnya sendiri tipis dan saling bersilangan.
Dibawa dari Banten, Diwariskan Empat Generasi
Inti kisah yang relatif konsisten di berbagai sumber: Rebana Biang dibawa ke tanah Betawi, khususnya kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, oleh seorang tokoh bernama Pak Kumis dari Banten, yang lalu mengajarkannya kepada H. Damong. Dari situ ilmu ini diturunkan berjenjang hingga sampai ke maestro abad ke-20, Abdurrahman—disebut sebagai generasi keempat dalam garis keturunan Pak Kumis-H. Damong-H. Bitong/H. Engkos-Abdurrahman. Kesenian ini pada mulanya dipentaskan dalam konteks keagamaan, sebagai pengiring seusai pengajian, sebelum meluas ke acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan penyambutan tamu.
Namun soal kapan persisnya Pak Kumis membawa kesenian ini, sumber-sumber tidak sepakat. Sejumlah situs budaya, satu artikel NU Online, dan satu halaman Inspektorat Jenderal Kemdikbudristek menyebut tahun 1825, dengan kalimat yang nyaris identik—termasuk daftar wilayah penyebarannya (Cijantung, Cakung, Ciseeng, Parung, Pondok Rajeng, Bojong Gede, Citayam)—indikasi kuat salah satu menyalin yang lain, atau keduanya menyalin sumber ketiga yang tidak disebutkan, bukan dua liputan independen. Sumber lain, termasuk pemberitaan Liputan6 tahun 2008, menyebut tahun 1860. Satu situs budaya lain bahkan menyebut "abad ke-18" pada satu bagian tulisannya sendiri, lalu menyebut "tahun 1825" pada bagian lain—inkonsistensi internal yang menunjukkan kompresi naratif yang kurang cermat, bukan fakta yang solid. Ada pula satu teori alternatif yang menyebut kesenian ini dibawa oleh pasukan Mataram di bawah Sultan Agung pada abad ke-17—narasi yang sama sekali berbeda dan tidak dikonfirmasi sumber lain mana pun, sehingga perlu diperlakukan sebagai teori minoritas yang belum terverifikasi, bukan alternatif yang setara.
Nama pembawa kesenian ini pun bervariasi penyebutannya: Pak Kumis, Bapak Kumis, H. Kumis, Pak Kumis bin Kandang, hingga versi paling elaboratif "Pak Tua Kumis (Syeikh Zainal bin Nasir Al-Bantani)" yang hanya muncul di satu sumber dan tidak dikonfirmasi di tempat lain—sehingga nama lengkap beraroma keagamaan ini sebaiknya dibaca sebagai elaborasi yang belum terverifikasi, bukan identitas yang mapan.
Asal Nama "Biang": Kemungkinan Besar, Bukan Kepastian
Tidak ditemukan sumber yang secara eksplisit menjelaskan etimologi nama "biang" untuk kesenian ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "biang" berarti induk, kepala atau pemimpin, dan pokok pangkal atau asal mula. Secara fungsional, rebana berukuran terbesar dalam ansambel ini—yang disebut biang—memang berperan seperti gong, yakni penanda dan pengikat irama yang diikuti rebana-rebana lain. Namun tidak ada satu pun sumber yang ditemukan menyambungkan makna kamus ini dengan peran fungsional tersebut menjadi sebuah etimologi yang dinyatakan secara langsung—sehingga pembacaan "biang berarti induk karena berperan sebagai penentu irama" di sini disajikan sebagai kemungkinan yang masuk akal, bukan fakta yang sudah dikonfirmasi sumber mana pun.
Instrumen: Tiga atau Empat Rebana, Tergantung Sumber Mana yang Dipegang
Seluruh sumber sepakat bahwa Rebana Biang tersusun dari rebana bertingkat ukuran, dari kecil ke besar, dengan yang terbesar—disebut biang—dimainkan di lantai dan diredam dengan kaki serta lutut, bukan dipegang seperti rebana pada umumnya. Di luar itu, rinciannya pecah cukup tajam. Wikipedia bahasa Indonesia dan satu halaman situs kebudayaanbetawi.com menyebut tiga rebana: gendung (30 cm), kotek (60 cm), dan biang (90 cm). Halaman lain dari situs yang sama justru menyebut empat rebana, dengan tambahan kecrek. Sementara itu Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta—sumber resmi pemerintah—menyebut empat rebana dengan nama dan ukuran yang juga berbeda: ketog (20 cm), gendung (30 cm), kotek (60 cm), dan biang (60-80 cm, bukan 90 cm seperti versi Wikipedia). Dengan kata lain, sumber resmi pemerintah sendiri tidak sejalan dengan Wikipedia soal jumlah maupun ukuran biang-nya—status "resmi" di sini tidak serta-merta menyelesaikan perbedaan itu.
Ada pula percabangan soal ada-tidaknya kericik logam pada instrumen ini: halaman Inspektorat Jenderal Kemdikbudristek dan NU Online (dengan redaksi yang nyaris identik satu sama lain) menyatakan Rebana Biang secara eksplisit tidak memiliki kericik logam seperti rebana lain, sementara versi "empat rebana dengan tambahan kecrek" dari sumber lain tampak mengisyaratkan justru ada komponen berkericik. Kedua klaim ini sulit sama-sama benar secara harfiah, dan disajikan di sini sebagai kontradiksi terbuka, bukan sesuatu yang sudah terpecahkan. Peran masing-masing rebana relatif konsisten di sumber yang membahasnya: gendung sebagai penjaga ritme dasar dimainkan sambil duduk, kotek untuk improvisasi melodi dan pola saling-isi, dan biang sebagai jangkar irama yang diredam kaki dan lutut di lantai.
Rebana Biang adalah satu dari sejumlah jenis rebana Betawi yang masing-masing punya fungsi berbeda: Rebana Ketimpring berukuran lebih kecil (20-25 cm) dengan kericik logam berpasangan, dipakai dalam prosesi pernikahan; Rebana Dor atau Rebana Hadroh berukuran sedang dengan struktur permainan tiga peran (bawa, ganjil-seling, gedug), dipakai untuk pertunjukan "adu zikir" yang kini juga makin jarang dimainkan pemain muda; dan Rebana Ngarak yang didefinisikan secara fungsional untuk mengiringi arak-arakan pengantin pria, bukan berdasarkan bentuk baku tertentu. Ada pula jenis lain yang tercatat seperti Rebana Burdah, Rebana Maulid, Rebana Kasidah, dan Rebana Maukhid—yang terakhir ini secara khusus dikaitkan dengan tokoh peranakan Arab-Hadrami, Habib Hussein Alhadad, berbeda dari Rebana Biang yang riwayatnya justru ditelusuri ke Banten, bukan ke komunitas Arab-Betawi.
Pengiring Zikir, Tari Belenggo, dan Teater yang Nyaris Sirna
Repertoarnya umumnya terbagi dua nuansa: lagu bertempo cepat bernuansa Arab dan lagu bertempo lebih lambat bernuansa Melayu, dengan judul-judul yang ejaannya bervariasi antar sumber seperti Robunasalun atau Alfasah, Allauah, dan Anak Ayam. Rebana Biang bukan musik instrumental murni—ia mengiringi nyanyian dan zikir, termasuk zikir bertempo cepat dan Tari Belenggo. Kesenian ini juga tercatat pernah mengiringi Teater Topeng Blantek serta seni ubrug, bentuk teater keliling Betawi yang menurut budayawan Yahya Andi Saputra kini nyaris tidak ada lagi yang memainkannya. Pada perkembangan yang lebih baru, sejumlah kelompok menambahkan alat musik seperti terompet, rebab, tehyan, dan biola—tambahan yang menurut sebagian sumber bukan bagian dari bentuk aslinya yang murni perkusi.
Abdurrahman: Sesepuh yang Bertahan Sendirian
Sosok yang paling banyak didokumentasikan dalam kesenian ini adalah Abdurrahman, lahir 2 Maret 1943 di Ciganjur, Jakarta Selatan—detail kelahiran ini berasal dari satu sumber dan belum dikonfirmasi silang di tempat lain. Kakeknya, H. Amsir, dan ayahnya, H. Sa'aba, sama-sama pemain Rebana Biang, menjadikannya generasi keempat dalam garis keturunan dari Pak Kumis. Sebelum menekuni kesenian ini secara penuh, ia adalah purnawirawan TNI Angkatan Laut di bidang pemetaan laut. Ia mendirikan dan memimpin Sanggar Rebana Biang Pusaka di kawasan Ciganjur/Cipedak, dan menurut pemberitaan Liputan6 tahun 2008, ia secara aktif merekrut generasi muda dengan alasan "kalau bukan saya, siapa lagi." Riset dari situs kebudayaanbetawi.com bahkan mencatat bahwa pada saat penelitian tersebut ditulis, kelompok pimpinan Abdurrahman adalah satu-satunya grup Rebana Biang yang masih bertahan di Jakarta. Sosok lain yang tercatat, meski hanya di satu sumber dan belum terverifikasi silang, adalah Kong Sa'anan, yang memimpin kelompok Rebana Biang populer pada dekade 1950-an dengan tambahan tari ronggeng gaib, sebelum kelompoknya bubar dan menjual instrumennya sendiri.
Status Warisan dan Realitas di Lapangan
Rebana Biang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda, namun tahun penetapannya juga tidak seragam antar dokumen. Basis data resmi Kemendikbud mencantumkan penetapan tahun 2017 dengan nomor Surat Keputusan 260/M/2017, domain Seni Pertunjukan, wilayah DKI Jakarta—tahun ini juga dikonfirmasi Wikipedia bahasa Indonesia secara independen. Namun dokumen daftar resmi PPID DKI Jakarta tampak menempatkan Rebana Biang dalam daftar terkait tahun 2015, bersama Keroncong Tugu dan Samrah. Kemungkinan ini mencerminkan proses berjenjang—pengusulan tingkat provinsi mendahului penetapan nasional oleh Kemendikbud—tetapi penjelasan ini tidak dapat dipastikan sepenuhnya dari dokumen yang tersedia, sehingga kedua tahun ini disajikan sebagai catatan terbuka, bukan yang sudah terselesaikan.
Soal keberlangsungannya, catatan dari berbagai periode waktu cukup konsisten: pemberitaan Liputan6 tahun 2008 sudah menggambarkannya sebagai kesenian yang terancam dan bergantung pada satu sesepuh yang gigih, sementara riset kebudayaanbetawi.com yang lebih baru mencatat hanya tersisa satu grup aktif di Jakarta. Di sisi lain, kesenian ini tetap punya momen visibilitas publik: pada pembukaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama tahun 2023, Rebana Biang dimainkan secara simbolis dengan Presiden Joko Widodo turut memukul rebananya. Dua fakta ini sama-sama benar dan saling melengkapi, bukan bertentangan: secara institusional kesenian ini masih dipanggil sebagai simbol budaya Betawi, sementara di tingkat akar rumput jumlah pelaku dan grup aktifnya sangat tipis.
Fakta Singkat
- Jumlah dan ukuran rebana dalam satu ansambel diperdebatkan antar sumber: tiga rebana (gendung 30cm, kotek 60cm, biang 90cm) versi Wikipedia, versus empat rebana (ketog, gendung, kotek, biang 60-80cm) versi resmi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
- Tahun kesenian ini dibawa dari Banten ke Ciganjur, Jakarta Selatan, disebut beragam: sekitar 1825 (versi paling sering diulang, dengan indikasi penyalinan antar sumber), sekitar 1860 (versi Liputan6 2008), atau "abad ke-18" (versi lain yang bahkan tidak konsisten dengan dirinya sendiri).
- Maestro abad ke-20, Abdurrahman, adalah generasi keempat pewaris dari Pak Kumis lewat H. Damong, dan menurut satu riset, kelompoknya pernah menjadi satu-satunya grup Rebana Biang yang masih bertahan di Jakarta.
- Tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda dengan tahun penetapan yang juga tidak seragam antar dokumen—2017 menurut basis data resmi Kemendikbud, 2015 menurut satu daftar PPID DKI Jakarta.
- Kesenian ini mengiringi zikir dan Tari Belenggo, dulunya juga seni ubrug yang kini nyaris tak ada yang memainkannya lagi, namun tetap dipanggil dalam acara besar seperti pembukaan Munas-Konbes NU 2023 yang dihadiri Presiden Joko Widodo.
Posting Komentar