Siapa Sebenarnya yang Pertama Membuat Soto Betawi?

Daftar Isi

Siapa Sebenarnya yang Pertama Membuat Soto Betawi?

Nama "Soto Betawi" mungkin sudah terasa seperti sesuatu yang sejak dulu ada. Padahal, kalau kita mencoba mencari tahu dari mana nama dan hidangan ini berasal, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu.

Ada yang menyebut nama "Soto Betawi" mulai dipakai oleh Lie Boen Po, seorang pedagang keturunan Tionghoa di kawasan Lokasari, Jakarta, pada akhir 1970-an.

Ada pula cerita tentang H. Ma'ruf, pedagang Betawi yang sudah menjual soto dengan cara dipikul sejak 1940-an.

Ada cerita lain yang menarik asal-usul soto lebih jauh lagi, ke pertemuan budaya Tionghoa di Batavia pada abad ke-18. Ada pula yang melihat pengaruh Arab dan India melalui penggunaan minyak samin.

Empat cerita ini tidak sepenuhnya sama. Bahkan beberapa di antaranya saling bertentangan.

Dan justru di situlah menariknya.

Kita mungkin tidak akan menemukan satu nama yang bisa disebut sebagai "pencipta" soto Betawi.

Yang bisa kita lakukan adalah melihat satu per satu cerita yang masih tersisa, lalu membedakan mana yang punya jejak sejarah cukup kuat, mana yang merupakan riwayat lisan, dan mana yang sampai hari ini masih menjadi dugaan.

Soto Betawi disajikan di sebuah warung kawasan Glodok, Jakarta. Foto oleh Gunawan Kartapranata, lisensi CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons.

Kisah Pertama: Lie Boen Po dan Nama "Soto Betawi"

Ini mungkin cerita yang paling sering kita temui ketika mencari sejarah soto Betawi.

Lie Boen Po disebut sebagai pedagang keturunan Tionghoa yang berjualan di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari, yang dahulu dikenal sebagai Prinsen Park.

Menurut cerita yang banyak diberitakan, ia mulai menggunakan istilah "soto Betawi" sekitar 1977–1978 untuk membedakan dagangannya dari soto lain yang biasanya dikenal berdasarkan nama pedagangnya.

Nama itu kemudian semakin dikenal dan bertahan sampai sekarang.

Tetapi ada satu hal penting yang sering terlewat ketika cerita ini diceritakan ulang.

Cerita Lie Boen Po sebenarnya lebih kuat sebagai cerita tentang siapa yang memberi nama "Soto Betawi" daripada siapa yang menciptakan hidangannya.

Bahkan beberapa sumber yang membawa kisah Lie Boen Po sendiri mengakui bahwa hidangan soto dengan karakter yang kemudian dikenal sebagai soto Betawi sudah dijual sebelum nama tersebut digunakan.

Jadi, kalau pertanyaannya adalah "siapa yang pertama membuat soto Betawi?", cerita ini belum memberikan jawaban yang pasti.

Ia justru membantu menjelaskan sesuatu yang berbeda: kapan nama "Soto Betawi" mulai melekat sebagai nama dagang yang dikenal luas.

Kisah Kedua: H. Ma'ruf dan Soto yang Sudah Ada Sejak 1940-an

Cerita kedua membawa kita lebih jauh ke belakang.

H. Ma'ruf bin Shahib bin Barru bin Nami dikenal sebagai pedagang Betawi yang mulai berjualan soto dengan cara dipikul sejak sekitar 1940-an.

Usahanya sempat berhenti pada masa pendudukan Jepang dan kemudian kembali berjalan sekitar 1946.

Pada 1960-an, ia disebut mulai mangkal di sekitar Stasiun Gondangdia, sebelum kemudian menetap di Jalan Cikini Raya 73.

Riwayat rumah makan H. Ma'ruf kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Sejumlah pemberitaan masih mencatat keberadaan warung tersebut hingga masa sekarang.

Cerita ini menarik karena sumber-sumber yang memberitakannya datang dengan detail yang berbeda-beda.

Ada yang lebih banyak bercerita tentang perjalanan H. Ma'ruf, ada yang menyoroti cara berjualan dengan pikulan, dan ada yang membahas keberlanjutan rumah makannya.

Itu membuat kisah H. Ma'ruf memiliki jejak cerita yang cukup kuat, meskipun tetap tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah "pencipta pertama" soto Betawi.

Bagaimana dengan Kuah Susunya?

Ada cerita lain yang ikut muncul dari keluarga H. Ma'ruf.

Menurut Mufti Maulana, salah satu generasi penerusnya, penggunaan susu pada kuah soto bermula dari keadaan ketika santan yang biasa digunakan sedang habis.

Susu kemudian digunakan sebagai pengganti dan justru menghasilkan karakter kuah yang kemudian dikenal banyak orang.

Cerita ini menarik, tetapi perlu ditempatkan pada posisi yang tepat: ini adalah riwayat lisan keluarga yang disampaikan melalui pemberitaan, bukan fakta sejarah yang telah diverifikasi melalui sumber primer.

Kisah Ketiga: Jejak Tionghoa dan "Caudo"

Kalau dua cerita sebelumnya masih berbicara tentang pedagang dan perjalanan sebuah warung, cerita ketiga membawa kita jauh lebih ke belakang.

Sejumlah tulisan tentang sejarah kuliner Nusantara menghubungkan perkembangan soto dengan komunitas Tionghoa Hokkian di Batavia pada sekitar abad ke-18.

Salah satu istilah yang sering muncul adalah "caudo" atau "cau do". Dalam berbagai tulisan, hidangan tersebut digambarkan dengan cara yang tidak selalu sama.

Dalam proses akulturasi, hidangan berbahan tertentu kemudian mengalami perubahan ketika masuk ke masyarakat lokal, termasuk masyarakat Betawi yang mayoritas Muslim.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Soto dan soto Betawi bukan pertanyaan sejarah yang sama.
Rujukan mengenai asal-usul soto secara umum tidak otomatis membuktikan asal-usul soto Betawi secara khusus.

Rujukan kepada sejarawan Denys Lombard memang membuat narasi mengenai pengaruh Tionghoa dalam perkembangan soto menjadi menarik untuk dibaca. Namun, itu belum cukup untuk mengatakan bahwa soto Betawi secara spesifik berasal langsung dari satu hidangan Tionghoa abad ke-18.

Bisa jadi yang terjadi justru lebih panjang: pengaruh budaya datang bertahap, kemudian bercampur dengan bahan, selera, kebiasaan, dan lingkungan masyarakat Jakarta.

Kisah Keempat: Pengaruh Arab dan India lewat Minyak Samin

Ada satu lagi cerita yang menarik perhatian.

Sejarawan kuliner Fadly Rahman dari Universitas Padjadjaran pernah dikutip dalam tulisan mengenai soto Betawi yang menghubungkan penggunaan minyak samin dengan pengaruh budaya Arab dan India.

Masuk akal jika kita melihat Jakarta sebagai kota pelabuhan yang sejak lama menjadi tempat bertemunya berbagai masyarakat dan kebudayaan.

Tetapi untuk kasus soto Betawi, bukti khusus mengenai pengaruh tersebut masih jauh lebih terbatas dibandingkan narasi tentang perjalanan soto sebagai makanan yang berkembang di Jakarta.

Karena itu, pengaruh Arab dan India lewat minyak samin lebih tepat disebut sebagai kemungkinan pengaruh dalam proses akulturasi, bukan sebagai jawaban pasti tentang asal-usul soto Betawi.

Jadi, Mana yang Paling Masuk Akal?

Setelah melihat keempat cerita tersebut, mungkin kita justru perlu mengubah pertanyaannya.

Bukan lagi: "Siapa pencipta soto Betawi?"

Tetapi: "Bagaimana soto Betawi terbentuk dan kapan nama itu mulai digunakan?"

Untuk soal nama, cerita Lie Boen Po pada akhir 1970-an memiliki tempat yang cukup kuat dalam berbagai sumber populer.

Untuk keberadaan hidangannya, cerita H. Ma'ruf memberikan jejak yang lebih tua, yaitu sejak sekitar 1940-an.

Sementara itu, hubungan soto dengan akulturasi Tionghoa dan kemungkinan pengaruh Arab maupun India membantu menjelaskan bahwa makanan Jakarta memang tidak lahir dalam ruang yang tertutup.

Ia tumbuh dari pertemuan banyak orang, bahan, kebiasaan, dan selera.

Jadi mungkin soto Betawi memang tidak punya satu "pencipta". Ia punya perjalanan.

Kenapa Kuah Soto Betawi Berwarna Putih?

Bahkan setelah persoalan asal-usulnya, masih ada satu pertanyaan yang tidak kalah menarik: kenapa kuah soto Betawi berwarna putih?

Jawabannya ternyata juga tidak tunggal.

Ada sumber yang menyebut santan sebagai bahan utama. Ada yang menyebut susu sudah digunakan dalam perkembangan resepnya. Ada pula cerita keluarga H. Ma'ruf yang mengatakan penggunaan susu bermula karena santan sedang habis.

Bahkan ada sumber yang menganggap versi berbahan susu sebagai perkembangan kemudian, bukan bagian dari resep awal.

Artinya, warna putih yang sekarang begitu mudah kita kenali sebagai ciri soto Betawi pun ternyata menyimpan sejarahnya sendiri.

Dan sekali lagi, belum ada satu bukti yang cukup kuat untuk menutup seluruh perdebatan tersebut.

Fakta Singkat
  • "Soto Betawi" sebagai nama diperkirakan mulai populer pada akhir 1970-an dan sering dikaitkan dengan pedagang Lie Boen Po di kawasan Lokasari.
  • Hidangan soto yang kemudian dikenal sebagai soto Betawi sudah memiliki riwayat penjualan sebelum nama "Soto Betawi" populer.
  • H. Ma'ruf dikenal sebagai pedagang Betawi yang sudah berjualan soto dengan cara dipikul sejak sekitar 1940-an.
  • Ada teori yang menghubungkan perkembangan soto di Nusantara dengan akulturasi Tionghoa di Batavia, termasuk istilah "caudo", tetapi teori mengenai asal-usul soto secara umum tidak otomatis membuktikan asal-usul soto Betawi secara spesifik.
  • Penggunaan minyak samin sering dikaitkan dengan kemungkinan pengaruh Arab dan India, tetapi bukti khusus mengenai pengaruh tersebut pada pembentukan soto Betawi masih terbatas.
  • Tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menetapkan satu orang sebagai pencipta tunggal soto Betawi.
  • Riwayat mengenai kuah santan dan susu juga memiliki beberapa versi yang belum sepenuhnya dapat dipertemukan.

Pertanyaan Umum Seputar Soto Betawi

Siapa yang pertama membuat Soto Betawi?

Belum ada bukti sejarah yang cukup kuat untuk menetapkan satu orang sebagai pencipta pertama Soto Betawi. Nama Lie Boen Po lebih sering dikaitkan dengan penggunaan istilah "Soto Betawi" pada sekitar 1977–1978, sementara riwayat H. Ma'ruf menunjukkan bahwa soto yang kemudian dikenal sebagai soto Betawi sudah dijual sejak sekitar 1940-an.

Kapan nama "Soto Betawi" mulai digunakan?

Sejumlah sumber populer menyebut istilah "Soto Betawi" mulai digunakan oleh Lie Boen Po sekitar 1977–1978 ketika ia berjualan di kawasan Lokasari, Jakarta. Namun, hidangan sotonya sendiri disebut sudah ada sebelum nama tersebut digunakan.

Siapa H. Ma'ruf dalam sejarah Soto Betawi?

H. Ma'ruf bin Shahib bin Barru bin Nami adalah pedagang Betawi yang menurut sejumlah pemberitaan mulai berjualan soto dengan cara dipikul sejak sekitar 1940-an. Ia kemudian memiliki rumah makan di kawasan Cikini, Jakarta, yang diteruskan oleh keluarganya.

Apakah Soto Betawi berasal dari kuliner Tionghoa?

Ada teori yang menghubungkan perkembangan soto di Nusantara dengan pengaruh komunitas Tionghoa di Batavia sejak abad ke-18, termasuk hidangan yang disebut "caudo" atau "cau do". Namun, teori tersebut lebih banyak membahas asal-usul soto secara umum dan belum cukup untuk membuktikan bahwa Soto Betawi secara langsung berasal dari satu hidangan Tionghoa tertentu.

Apakah Soto Betawi mendapat pengaruh Arab dan India?

Ada pendapat yang menghubungkan penggunaan minyak samin dalam Soto Betawi dengan pengaruh kuliner Arab dan India. Pendapat ini menarik dalam konteks sejarah Jakarta sebagai kota yang menjadi tempat pertemuan berbagai budaya, tetapi bukti khusus mengenai pengaruh tersebut pada pembentukan Soto Betawi masih terbatas.

Kenapa kuah Soto Betawi berwarna putih?

Kuah putih Soto Betawi biasanya dikaitkan dengan penggunaan santan, susu, atau kombinasi keduanya. Riwayat penggunaannya tidak sepenuhnya seragam. Salah satu cerita keluarga H. Ma'ruf menyebut susu digunakan ketika santan sedang habis, tetapi cerita tersebut merupakan riwayat lisan dan belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang pasti.

Apakah Soto Betawi merupakan hasil akulturasi budaya?

Kemungkinan besar perkembangan Soto Betawi tidak dapat dipisahkan dari lingkungan Jakarta yang sejak lama menjadi tempat pertemuan berbagai budaya. Pengaruh Tionghoa, Nusantara, Arab, India, dan tradisi kuliner lokal sering disebut dalam pembahasan sejarahnya. Namun, kontribusi masing-masing pengaruh tidak semuanya sudah dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama.

Apakah benar Soto Betawi sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda?

Soto Betawi tercatat dalam berbagai sumber sebagai bagian dari warisan budaya kuliner Jakarta. Namun, tahun dan nomor registrasi yang beredar di sejumlah sumber sekunder tidak seluruhnya konsisten. Karena itu, informasi status WBTB sebaiknya merujuk pada basis data resmi pemerintah yang berlaku saat dilakukan pengecekan.

Mungkin bukan soal siapa yang pertama.

Bisa jadi yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah makanan bisa tumbuh dari perjalanan panjang sebuah kota.

Dari pedagang, keluarga, kampung, pasar, pengaruh budaya, sampai selera yang berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena pada akhirnya, Soto Betawi bukan hanya soal semangkuk soto.

Ia adalah salah satu cerita tentang bagaimana Jakarta menjadi Jakarta.

BetawiBanget.id

Sumber & Referensi

Tulisan ini menggunakan sumber pemerintah, karya akademik, pemberitaan sejarah, serta dokumentasi budaya. Karena riwayat kuliner seperti Soto Betawi banyak diwariskan melalui cerita lisan, beberapa bagian dalam artikel ini sengaja dibedakan antara fakta yang terdokumentasi, riwayat lisan, dan dugaan yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

  • Historia.id — tulisan mengenai sejarah Soto Betawi dan riwayat H. Ma'ruf, termasuk keterangan dari Mufti Maulana dan rujukan sejarah kuliner.
  • Kompas — pemberitaan mengenai H. Ma'ruf dan perjalanan usaha kulinernya.
  • MerahPutih — pemberitaan mengenai sejarah dan pedagang Soto Betawi.
  • Liputan6 — dokumentasi mengenai rumah makan dan sejarah Soto Betawi.
  • Radio Republik Indonesia (RRI) — tulisan mengenai sejarah Soto Betawi dan Lie Boen Po.
  • Kumparan — tulisan mengenai sejarah, penamaan, dan perkembangan Soto Betawi.
  • Seni Budaya Betawi — referensi mengenai kuliner dan akulturasi budaya Betawi.
  • Kebudayaan Betawi — dokumentasi budaya Betawi dan sejarah Soto Betawi.
  • Fadly Rahman, Universitas Padjadjaran — rujukan mengenai sejarah kuliner dan kemungkinan pengaruh Arab-India melalui penggunaan minyak samin.
  • Denys Lombard — rujukan sejarah mengenai perkembangan budaya dan kuliner Nusantara dalam konteks pertemuan berbagai kebudayaan.
  • Antara News — pemberitaan mengenai Warisan Budaya Takbenda di Jakarta.
  • Basis Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia — rujukan resmi pemerintah untuk status WBTB.
  • Wikimedia Commons — Soto Betawi Glodok — foto oleh Gunawan Kartapranata, lisensi CC BY-SA 3.0.

Posting Komentar