Asal-Usul Krukut: Kampung Arab-Betawi di Tepi Kali yang Dijuluki Venesia

Daftar Isi
Kali Krukut dekat Jalan Perniagaan, Jakarta Barat

Kali Krukut di dekat Jalan Perniagaan, Jakarta Barat—dulu jadi urat nadi kehidupan sehari-hari warga kampung Krukut. (Foto: Cun Cun via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Krukut kini menjadi kelurahan padat di Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, tak jauh dari kawasan Kota Tua dan Glodok. Namun sebelum jadi permukiman urban seperti sekarang, Krukut adalah kampung dagang Arab yang berdampingan hidup dengan warga Betawi selama berabad-abad, dengan Kali Krukut sebagai urat nadi kehidupan sehari-hari.

Dari Sindiran Betawi sampai Nama Kampung

Asal-usul nama "Krukut" punya beberapa versi. Salah satu yang paling sering dikutip menyebut nama ini berasal dari kata "krokot"—sindiran khas Betawi untuk orang yang pelit atau kikir, yang konon dahulu dialamatkan kepada sebagian pedagang Arab di kawasan ini sebelum berubah pelafalan menjadi "Krukut". Versi lain mengaitkannya dengan kata Belanda "kerkhof" yang berarti pemakaman, karena kawasan ini pernah menjadi lokasi pekuburan. Karena tidak ada satu sumber yang bisa memastikan versi mana yang benar, keduanya tetap dianggap sebagai cerita rakyat yang bersaing hingga kini.

Kampung Arab-Betawi di Tepi Kali Krukut

Sejak awal abad ke-20, Krukut sudah dikenal sebagai permukiman warga keturunan Arab yang hidup berdampingan dengan warga Betawi asli, bagian dari pola kampung-kampung berbasis etnis di Batavia kolonial. Menurut catatan sejarawan Betawi Alwi Shahab, sejak sekitar 1950-an populasi warga Arab di Krukut mulai berkurang, dan pada era 1970-an tinggal tersisa beberapa keluarga saja, digantikan warga keturunan Tionghoa. Jejak masa lalu ini masih bisa dilihat dari dua nama jalan yang bertahan hingga sekarang, Jalan Abdullah dan Jalan Talib, serta nama-nama gang seperti Gang Madat (dulu lokasi tempat mengisap candu) dan Gang Petasan (dulu sentra pembuatan petasan warga Tionghoa-Betawi).

Kali Krukut, Tempat Mandi, Wudu, dan Ikan Mabuk

Bagi warga Betawi yang tinggal di sepanjang alirannya, Kali Krukut dulu bukan sekadar saluran air, melainkan pusat kehidupan sehari-hari. Anak-anak kampung mandi dan bermain di sungai ini, warga mengambil air wudu untuk salat, sementara perajin batik dari kawasan Karet mencuci kain di alirannya yang masih jernih. Sungai ini juga jadi sumber ikan, termasuk peristiwa "ikan mabuk" yang legendaris—ikan-ikan yang tiba-tiba muncul melimpah ke permukaan dan mudah ditangkap warga. Konon buaya sepanjang sekitar tiga meter juga masih terlihat di kawasan Karet Kubur hingga era 1950-an.

Sayangnya, memasuki akhir 1950-an, Kali Krukut yang dulu dijuluki "Venesia dari Timur" karena kejernihannya berangsur berubah menjadi saluran keruh akibat limbah rumah tangga, hingga pernah terjadi kematian massal ikan yang membutuhkan dua truk untuk mengangkut bangkainya. Kini alirannya menyempit oleh bangunan liar dan kerap jadi biang banjir di kawasan yang dilintasinya.

Krukut Hari Ini

Kini Kelurahan Krukut menjadi bagian dari Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, berdekatan dengan kawasan Glodok yang dikenal sebagai pecinan tertua Jakarta. Meski wajah Krukut telah banyak berubah dari kampung dagang Arab-Betawi yang ramai di tepi sungai, jejak-jejak nama jalan dan kenangan warga tentang kehidupan di tepi Kali Krukut tetap jadi bagian tak terpisahkan dari identitas kampung ini.

Fakta Singkat

  • Nama "Krukut" diduga berasal dari sindiran Betawi "krokot" untuk pedagang Arab yang pelit, atau dari kata Belanda "kerkhof" yang berarti pemakaman.
  • Krukut sejak awal abad ke-20 dikenal sebagai kampung Arab yang hidup berdampingan dengan warga Betawi, sebelum populasi Arabnya berangsur digantikan warga Tionghoa sejak 1950-an.
  • Dua nama jalan, Jalan Abdullah dan Jalan Talib, masih bertahan sebagai jejak identitas Arab kampung ini.
  • Kali Krukut dulu jadi tempat mandi, wudu, dan mencuci batik warga Betawi, dengan fenomena "ikan mabuk" dan buaya yang masih terlihat hingga era 1950-an.
  • Kini Krukut menjadi kelurahan di Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, berdekatan dengan kawasan Glodok.

Pertanyaan Umum Seputar Asal-Usul Krukut

Dari mana asal-usul nama "Krukut"?

Ada dua versi yang bersaing. Versi paling sering dikutip menyebut nama ini berasal dari kata "krokot"—sindiran khas Betawi untuk orang yang pelit atau kikir, yang konon dahulu dialamatkan kepada sebagian pedagang Arab di kawasan ini sebelum berubah pelafalan menjadi "Krukut". Versi lain mengaitkannya dengan kata Belanda "kerkhof" yang berarti pemakaman, karena kawasan ini pernah menjadi lokasi pekuburan. Tidak ada satu sumber yang bisa memastikan versi mana yang benar.

Sejak kapan warga Arab menetap di Krukut, dan kapan populasinya berkurang?

Sejak awal abad ke-20, Krukut sudah dikenal sebagai permukiman warga keturunan Arab yang hidup berdampingan dengan warga Betawi asli. Menurut catatan sejarawan Betawi Alwi Shahab, sejak sekitar 1950-an populasi warga Arab di Krukut mulai berkurang, dan pada era 1970-an tinggal tersisa beberapa keluarga saja, digantikan warga keturunan Tionghoa. Jejak masa lalu ini masih terlihat dari dua nama jalan yang bertahan hingga sekarang, Jalan Abdullah dan Jalan Talib.

Kenapa Kali Krukut dulu dijuluki "Venesia dari Timur"?

Karena kejernihannya. Kali Krukut dulu bukan sekadar saluran air, melainkan pusat kehidupan sehari-hari: anak-anak kampung mandi dan bermain di sungai ini, warga mengambil air wudu untuk salat, dan perajin batik dari kawasan Karet mencuci kain di alirannya yang masih jernih. Namun memasuki akhir 1950-an, julukan itu memudar seiring saluran berubah keruh akibat limbah rumah tangga.

Benarkah ada buaya di Kali Krukut?

Menurut warga, ya. Konon buaya sepanjang sekitar tiga meter masih terlihat di kawasan Karet Kubur hingga era 1950-an, saat sungai ini masih jadi sumber ikan dan bahkan sempat mengalami peristiwa "ikan mabuk" yang legendaris—ikan-ikan yang tiba-tiba muncul melimpah ke permukaan dan mudah ditangkap warga.

Apa yang tersisa dari identitas Arab-Betawi Krukut hari ini?

Kini Kelurahan Krukut menjadi bagian dari Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, berdekatan dengan kawasan Glodok yang dikenal sebagai pecinan tertua Jakarta. Meski wajah Krukut telah banyak berubah dari kampung dagang Arab-Betawi yang ramai di tepi sungai, jejak-jejak nama jalan seperti Jalan Abdullah dan Jalan Talib, serta nama-nama gang seperti Gang Madat dan Gang Petasan, tetap jadi bagian tak terpisahkan dari identitas kampung ini.

Posting Komentar