Sejarah Tanah Abang: Asal-Usul Nama dan Kisah Pasar Grosir Terbesar Asia Tenggara

Daftar Isi
Pasar Tanah Abang tempo dulu

Suasana Pasar Tanah Abang pada masa kolonial (foto diambil antara 1900-1940)—jauh sebelum jadi pusat grosir tekstil terbesar Asia Tenggara seperti sekarang. (Koleksi Tropenmuseum/CC BY-SA 3.0/Wikimedia Commons)

Setiap hari, puluhan ribu orang lalu-lalang di Tanah Abang buat belanja kain dan pakaian grosir. Tapi coba tanya sepuluh orang dari mana asal nama "Tanah Abang", kemungkinan besar bakal dapat sepuluh jawaban berbeda. Nama kawasan paling ramai di Jakarta ini ternyata nyimpen misteri etimologi yang sampai sekarang belum ada yang bisa mastiin jawaban pastinya.

Tanah Merah atau Pohon Nabang?

Ada beberapa teori yang beredar soal asal nama Tanah Abang, dan medianya sendiri gak pernah sepakat mana yang paling benar. Versi pertama bilang "abang" adalah kata Jawa buat warna merah, merujuk pada warna tanah kemerahan di kawasan berbukit dekat Kali Krukut. Versi ini bahkan dikaitkan dengan penyerbuan pasukan Mataram ke Batavia pada 1628, di mana mereka mendirikan basis di kawasan berbukit dan berawa itu lalu menamainya "tanah abang" karena warna tanahnya. Versi kedua datang dari budayawan Betawi Ridwan Saidi, yang bilang namanya berasal dari pohon palem bernama "Nabang" yang dulu tumbuh subur di perbukitan situ. Konon, kondektur pedati zaman dulu suka teriak "Nabang, Nabang, ayo Nabang" buat nandain tujuan, sampai Belanda menyebutnya "De Nabang", yang oleh lidah lokal berubah jadi "Tenabang". Baru pada 1890, perusahaan kereta api membakukan ejaannya jadi "Tanah Abang" seperti yang kita kenal sekarang. Ada juga versi ketiga yang lebih personal: cerita rakyat soal seorang adik yang minta abangnya (kakaknya) mendirikan rumah di tanah tersebut, sehingga disebut "tanah abang"—tanah milik sang abang.

Pejabat VOC yang Jeli Melihat Peluang Bisnis

Terlepas dari misteri nama, sejarah resmi pasar ini cukup jelas tercatat. Pada 1733, Justinus Vinck, pejabat VOC sekaligus anggota Raad van Indie (Dewan Hindia), membeli tanah luas di kawasan Weltevreden dan Tanah Abang seharga 39.000 ringgit. Dua tahun kemudian, tepatnya akhir Agustus 1735 (sumber berbeda menyebut tanggal 30 atau 31 Agustus), Vinck mendapat izin resmi mendirikan dua pasar sekaligus: Pasar Weltevreden di sisi timur yang belakangan dikenal sebagai Pasar Senen karena hari pasarnya hari Senin, dan Pasar Tanah Abang di sisi barat yang awalnya cuma buka hari Sabtu. Sejarawan dan budayawan Betawi Alwi Shahab, dalam bukunya "Saudagar Baghdad dari Betawi", menggambarkan kesederhanaan pasar ini di awal berdirinya. "Pada awalnya, pasar yang dibangun Justinus Vinck sangat sederhana, hanya beratap rumbia dan berdinding gedek," tulisnya. Vinck sendiri jelas bukan tipe pejabat yang bekerja tanpa pamrih—ia meraup untung besar dari sewa lapak pedagang, terutama dari komunitas Tionghoa yang jadi penyewa utama.

Dari Jagoan Silat sampai Si Pitung

Sepanjang sejarahnya, Tanah Abang juga jadi rumah bagi sejumlah tokoh legendaris Betawi. "Dalam sejarahnya, Tanah Abang memiliki segudang jagoan," tulis Alwi Shahab, merujuk pada jawara-jawara silat seperti Sabeni yang namanya masih dikenang sampai sekarang. Bahkan sosok legendaris Si Pitung pun dikisahkan pernah berjualan kambing di pasar ini. Kombinasi antara pasar dagang yang ramai dan budaya jawara yang kental membuat Tanah Abang tempo dulu punya reputasi sebagai kawasan yang keras sekaligus dinamis—ciri khas yang sebagiannya masih terasa sampai hari ini.

Kebakaran yang Justru Melahirkan Raksasa Baru

Titik balik besar dalam sejarah modern Tanah Abang terjadi pada 19 Februari 2003, ketika kebakaran hebat melalap pasar ini selama sekitar 34 jam, menghanguskan sekitar 5.700 kios di lima blok. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta saat itu, Johnny Pangaribuan, mengungkap ironi penanganannya. "Ada 34 hidran beserta pompanya, tapi tak satu pun keluar airnya," ungkapnya, menggambarkan betapa buruknya infrastruktur pemadam kebakaran kala itu. Namun dari abu kebakaran itu, lahir raksasa baru: PD Pasar Jaya bekerja sama dengan PT Priamanaya Djan International membangun ulang Blok A jadi gedung 18 lantai yang diresmikan Juli 2005, dan sejak itu Tanah Abang mulai disebut-sebut sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 10.000 kios tersebar di seluruh kompleks dan transaksi harian yang pernah dilaporkan tembus ratusan miliar rupiah.

Sengketa Pengelolaan yang Berlarut-Larut

Kisah kebangkitan Tanah Abang pasca-kebakaran bukan tanpa drama. Kontrak kerja sama PT PDI yang semula dijadwalkan berakhir 2008 justru berlarut-larut jadi sengketa hukum dan politik selama bertahun-tahun, apalagi pemiliknya, Djan Faridz, sempat menjabat Menteri Perumahan Rakyat. Direktur PD Pasar Jaya Djangga Lubis menjelaskan proses audit yang harus dilalui sebelum pengelolaan bisa dikembalikan sepenuhnya. "Sekarang ini, kami sedang melakukan audit bangunan. Kami tidak mau menerima kondisi bangunan sudah rusak," tegasnya. Baru di akhir 2014, pengelolaan Blok A resmi kembali ke tangan PD Pasar Jaya, mengakhiri babak panjang sengketa yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Fakta Singkat

  • Asal nama "Tanah Abang" masih diperdebatkan: dari "tanah merah", pohon "Nabang", atau cerita rakyat kakak-adik.
  • Pasar Tanah Abang didirikan Justinus Vinck bersamaan dengan Pasar Senen, akhir Agustus 1735.
  • Kebakaran besar 19 Februari 2003 menghanguskan sekitar 5.700 kios di lima blok.
  • Blok A baru diresmikan Juli 2005 sebagai gedung 18 lantai, memicu julukan pusat grosir tekstil terbesar Asia Tenggara.
  • Sengketa pengelolaan Blok A antara PD Pasar Jaya dan PT PDI baru tuntas di akhir 2014.

Pertanyaan Umum Seputar Asal-Usul Tanah Abang

1. Dari mana asal nama Tanah Abang?
Belum ada kepastian. Versi pertama bilang "abang" adalah kata Jawa buat warna merah, merujuk pada warna tanah kemerahan di kawasan berbukit dekat Kali Krukut, dikaitkan dengan penyerbuan pasukan Mataram ke Batavia pada 1628. Versi kedua dari budayawan Betawi Ridwan Saidi menyebut asalnya dari pohon palem bernama "Nabang" yang dulu tumbuh subur di perbukitan situ. Versi ketiga adalah cerita rakyat soal seorang adik yang minta abangnya mendirikan rumah di tanah tersebut.

2. Siapa yang mendirikan Pasar Tanah Abang?
Pasar Tanah Abang didirikan Justinus Vinck, pejabat VOC sekaligus anggota Raad van Indie, yang mendapat izin resmi mendirikan dua pasar sekaligus pada akhir Agustus 1735: Pasar Weltevreden di sisi timur (belakangan jadi Pasar Senen) dan Pasar Tanah Abang di sisi barat yang awalnya cuma buka hari Sabtu.

3. Tokoh legendaris apa yang terkait dengan Tanah Abang?
Tanah Abang jadi rumah bagi sejumlah jawara silat legendaris Betawi seperti Sabeni. Sosok legendaris Si Pitung pun dikisahkan pernah berjualan kambing di pasar ini, meski klaim ini sebatas anekdot yang beredar dan bukan fakta yang didukung dokumen sejarah primer.

4. Apa yang terjadi pada kebakaran Tanah Abang 2003?
Pada 19 Februari 2003, kebakaran hebat melalap pasar ini selama sekitar 34 jam, menghanguskan sekitar 5.700 kios di lima blok. Dari abu kebakaran itu, PD Pasar Jaya bekerja sama dengan PT Priamanaya Djan International membangun ulang Blok A jadi gedung 18 lantai yang diresmikan Juli 2005, menjadikan Tanah Abang pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 10.000 kios.

5. Bagaimana sengketa pengelolaan Blok A berakhir?
Kontrak kerja sama PT PDI yang semula dijadwalkan berakhir 2008 justru berlarut-larut jadi sengketa hukum dan politik selama bertahun-tahun. Baru di akhir 2014, pengelolaan Blok A resmi kembali ke tangan PD Pasar Jaya, mengakhiri babak panjang sengketa yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Catatan redaksi: tiga versi asal nama Tanah Abang — tanah merah, pohon "Nabang", dan cerita rakyat kakak-adik — sama-sama beredar tanpa ada yang dikonfirmasi sebagai versi final, bahkan media pun tidak pernah sepakat mana yang paling benar; klaim Si Pitung pernah berjualan kambing di pasar ini juga sebatas anekdot yang beredar, bukan fakta yang didukung dokumen sejarah primer.

Posting Komentar